Saat senja tiba di Benteng Jinju pada 14 Agustus, benteng batu akan bersinar dengan pertunjukan cahaya yang diproyeksikan.
Ini adalah babak pertama dari Festival Media Seni Warisan Nasional 2026, festival bercahaya yang berlangsung hingga November di 12 lokasi bersejarah di Korea.
>>> Gereja Tanpa Salib? Menjelajahi Tempat Ibadah Paling Unik di Korea
Diselenggarakan oleh Korea Heritage Service bersama Korea Heritage Agency, program yang diperluas ini menggabungkan kecerdasan buatan (AI), realitas campuran, dan pemetaan proyeksi di ibu kota kerajaan, benteng pesisir, dan kuil gunung.
Inisiatif ini memperluas tur delapan kota tahun lalu, menggunakan teknologi kontemporer untuk menerangi landmark budaya sambil meningkatkan pariwisata malam hari.
Tema program mencakup 'Cahaya Ibu Kota dan Peradaban', 'Cahaya Perlindungan dan Perdamaian', serta 'Cahaya Kota dan Kehidupan Sehari-hari'.
Di Benteng Jinju, 'Gaonnuri Jinjuseongdo' menggabungkan sejarah dan instalasi interaktif hingga 6 September.
Pemetaan proyeksi di Gerbang Gongbukmun dan patung Jenderal Kim Si-min menceritakan pertahanan benteng selama invasi bersejarah.
Di Paviliun Chokseokru, pengunjung dapat memukul drum tradisional untuk memicu bunga delima visual di seluruh struktur kayu.
Ibu Kota Kerajaan Kuno
Mulai September, festival beralih ke ibu kota kerajaan kuno.
Di Gyeongju, 'Kelahiran Silla' memproyeksikan mitos awal kerajaan di Kompleks Makam Daereungwon (4-27 September).
Sementara itu, Situs Kuil Mireuksa di Iksan akan menampilkan pemetaan proyeksi 30 meter yang merekonstruksi pagoda kayu yang hilang, serta jalur cahaya dan laser yang menghubungkan dua pagoda batu kembarnya.
>>> Novel Grafis Korea Pertama Kali Raih Eisner Award
Di Buyeo, instalasi AI di Situs Kuil Jeonglim memungkinkan pengunjung menjelajahi arsitektur Baekje, sementara Situs Istana Goryeo di Pulau Ganghwa menggunakan pemetaan digital untuk merekonstruksi bangunan kerajaan yang hancur dalam konflik sejarah.
