Di Sunhyewon, rumah tradisional Korea yang disulap menjadi ruang seni di Samcheong-dong, Seoul, sebuah karpet berkilau terbentang di lobi.
Namun saat diamati lebih dekat, karya Choi Sung-im berjudul Golden Blanket (2026) itu ternyata ditenun tangan dari ribuan tali kawat emas yang biasa dipakai menutup kantong roti tawar.
Instalasi berukuran 6,2 kali 4,8 meter tersebut memakan waktu lebih dari satu bulan untuk dibuat dan menjadi penopang pameran PODO Museum bertajuk A Note From Trembling Things.
Choi menyampaikan hal itu dalam jumpa pers selama Frieze Seoul Art Week.
Menurutnya, selimut bukan sekadar benda rumah tangga.
Saat membuka mata di pagi hari, selimut adalah lanskap pertama yang ia lihat dan menyentuh tubuhnya, sebuah dunia yang lebih besar dari tubuhnya.
Ia ingin menempatkan karya itu di ambang, seperti lantai kayu hanok, rumah tradisional Korea, tempat interior dan eksterior bertemu.
Pameran tersebut mengeksplorasi cara orang hidup bersama di dunia, menampilkan karya Choi, seniman Lebanon-Inggris Mona Hatoum, dan seniman Korea Kim Yun-soo.
Setiap makhluk berubah, dan mungkin karena kita berubah maka kita rentan, ujar Choi.
Bermain dengan bahan rapuh
Choi terutama bekerja dengan apa yang ia sebut bahan rapuh, seperti karung bawang, bola plastik dari kolam bola anak, dan barang industri lain yang ringan, murah, serta mudah dibuang.
Melalui pemotongan, pengikatan, penenunan, dan penumpukan, bahan-bahan itu tumbuh menjadi bentuk yang lebih besar.
Namun bekerja dengan benda biasa dan membuat instalasi bukan panggilan pertamanya.
Lahir pada 1977, ia menempuh pendidikan seni lukis gaya Barat di Ewha Womans University dan meniti karier dengan teknik tersebut.
Belakangan, sebagai ibu empat anak, tanggung jawab dan lingkungan yang ia hadapi membuatnya mempertimbangkan ulang pilihannya.
Kanvas putih terasa terlalu jauh dari harinya, terlalu jauh dari tempat waktu mengalir, kenangnya dalam wawancara dengan The Korea Times.
Ia ingin sup kimchi yang tumpah dan noda kehidupan menjadi bukan noda, melainkan pola yang indah.
Ia mulai bekerja dengan apa yang ada di dekatnya.
Lingkungan domestiknya tidak menjadi subjek untuk digambarkan, melainkan kondisi yang mengubah bahasa seninya.
Ia tidak ingin mereproduksi kehidupan sehari-hari, melainkan membalikkannya agar hal yang familier menjadi asing, hampir tidak nyaman.
Bahan rapuh menawarkan cara berpikir dan bertahan dengan menciptakan instalasi berskala besar.
Choi menggelar pameran tunggal pertamanya pada 2012 di usia 35 tahun, saat sudah membesarkan empat anak.
Ia menyebut dirinya seperti seniman yang sedang berlibur pada tahun-tahun sebelum pameran pertamanya.
Ia banyak berpikir tentang apa artinya menjadi seniman, apakah hanya saat mengerjakan sesuatu atau saat mempresentasikannya kepada dunia.
Kesederhanaan dan peran ibu
Kesederhanaan adalah pilihan sadar yang mendefinisikan karyanya.
Tidak ada teknik khusus dalam karyanya, ujarnya di studio sederhana tempat ia menenun Golden Blanket dengan tangan.
Bukan soal keahlian luar biasa atau sulaman rumit, melainkan aksi bolak-balik yang sangat sederhana, menghubungkan ujung ke awal.
Yang paling penting, tambahnya, adalah pergeseran pemikiran.
Instalasi awal Choi tampak besar, bukan untuk menciptakan tontonan, melainkan karena hal-hal kecil dan rentan perlu berkumpul agar bertahan.
Seperti ivy yang tumbuh di dinding atau teritip yang menempel di batu, karyanya menyerupai cara makhluk kecil dan rapuh menemukan tempat di dunia dan bertahan.
Choi enggan berbicara publik tentang perannya sebagai ibu hingga belakangan, khawatir karyanya direduksi menjadi bingkai keluarga.
Ia khawatir orang berhenti pada satu kalimat: seniman yang membuat karya tali roti karena membesarkan anak di rumah.
Namun ia juga mulai merasa bahwa tanpa menjelaskan situasinya, orang mungkin tidak memahami mengapa ia berbicara gigih tentang dalam dan luar.
Putri sulungnya, Kim Seo-young, menulis pengantar brosur seni ibunya.
Dalam tulisan itu, ia menyebut ibunya bergerak di antara tiga dunia: keluarga, identitas, dan visinya.
Namun ia juga bagian dari satu dunia yang saling terkait, bukan terpisah.
Ia ibuku, ia perempuan, ia seniman.
Pada 2014, keluarga itu menerbitkan kumpulan esai berjudul Four Pairs of Eyes, tempat Choi dan anak-anaknya menulis tentang arti menjadi ibu sekaligus seniman.
Mereka menggambarkan bagaimana peran ibu dan seni Choi menemukan tempatnya di meja makan, tempat keluarga makan, belajar, membaca, dan menggambar bersama.
Begitu anak-anak tidur, ia kembali ke meja yang sama untuk memotong, menjahit, menggambar, atau menenun demi pameran mendatang.
Bagi Choi dan anak-anaknya, seni tidak pernah terbatas di studio yang jauh.
Seni adalah cara hidup bersama.
Ibuku adalah seniman yang jatuh cinta pada seni jauh sebelum menjadi ibu, tulis putrinya, Ji-heon, dalam buku itu.
Ia tidak berencana melepaskannya bahkan di tengah tanggung jawab membesarkan bukan satu, dua, tapi empat anak.
Komitmen dan dedikasi yang ia tunjukkan pada seni lebih dari yang bisa dibayangkan siapa pun, sesuatu yang hanya dipahami orang terdekat.
Pameran kadang terasa fana, dibangun dengan susah payah lalu disapu bersih saat instalasi berakhir.
Choi melihat ketidakkekalan itu sebagai bagian dari pesona teatrikal seni instalasi, karena karya hanya ada sepenuhnya sekali, di tempat dan momen tertentu.
Namun mengamati orang merawat kebun di luar studionya di Suwon mengubah cara ia berpikir tentang apa yang tersisa.
Setiap tahun mereka membalik tanah, membersihkan tanaman, dan menyiapkan lahan baru.
Kerja musim itu tidak terhapus, melainkan tersimpan di tubuh sebagai pengetahuan.
Bagi saya, hal yang sama berlaku untuk seni, ujar Choi.
Praktik yang terus berjalan untuk membuat, membongkar, dan memulai lagi.