unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Choi Sung-im Tenun Golden Blanket dari Tali Roti
Lifestyle

Choi Sung-im Tenun Golden Blanket dari Tali Roti

Choi Sung-im Tenun Golden Blanket dari Tali Roti
Choi Sung-im Tenun Golden Blanket dari Tali Roti
A A Ukuran Teks16px

Choi enggan berbicara publik tentang perannya sebagai ibu hingga belakangan, khawatir karyanya direduksi menjadi bingkai keluarga.

Ia khawatir orang berhenti pada satu kalimat: seniman yang membuat karya tali roti karena membesarkan anak di rumah.

Namun ia juga mulai merasa bahwa tanpa menjelaskan situasinya, orang mungkin tidak memahami mengapa ia berbicara gigih tentang dalam dan luar.

Putri sulungnya, Kim Seo-young, menulis pengantar brosur seni ibunya.

Dalam tulisan itu, ia menyebut ibunya bergerak di antara tiga dunia: keluarga, identitas, dan visinya.

Namun ia juga bagian dari satu dunia yang saling terkait, bukan terpisah.

Ia ibuku, ia perempuan, ia seniman.

Pada 2014, keluarga itu menerbitkan kumpulan esai berjudul Four Pairs of Eyes, tempat Choi dan anak-anaknya menulis tentang arti menjadi ibu sekaligus seniman.

Mereka menggambarkan bagaimana peran ibu dan seni Choi menemukan tempatnya di meja makan, tempat keluarga makan, belajar, membaca, dan menggambar bersama.

Begitu anak-anak tidur, ia kembali ke meja yang sama untuk memotong, menjahit, menggambar, atau menenun demi pameran mendatang.

Bagi Choi dan anak-anaknya, seni tidak pernah terbatas di studio yang jauh.

Seni adalah cara hidup bersama.

Ibuku adalah seniman yang jatuh cinta pada seni jauh sebelum menjadi ibu, tulis putrinya, Ji-heon, dalam buku itu.

Ia tidak berencana melepaskannya bahkan di tengah tanggung jawab membesarkan bukan satu, dua, tapi empat anak.

Komitmen dan dedikasi yang ia tunjukkan pada seni lebih dari yang bisa dibayangkan siapa pun, sesuatu yang hanya dipahami orang terdekat.

Pameran kadang terasa fana, dibangun dengan susah payah lalu disapu bersih saat instalasi berakhir.

Choi melihat ketidakkekalan itu sebagai bagian dari pesona teatrikal seni instalasi, karena karya hanya ada sepenuhnya sekali, di tempat dan momen tertentu.

Namun mengamati orang merawat kebun di luar studionya di Suwon mengubah cara ia berpikir tentang apa yang tersisa.

Setiap tahun mereka membalik tanah, membersihkan tanaman, dan menyiapkan lahan baru.

Kerja musim itu tidak terhapus, melainkan tersimpan di tubuh sebagai pengetahuan.

Bagi saya, hal yang sama berlaku untuk seni, ujar Choi.

Praktik yang terus berjalan untuk membuat, membongkar, dan memulai lagi.

📰 Update Terbaru