Ia juga mengulangi pernyataannya bahwa Angkatan Laut AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
'Tembok Baja Amerika Serikat!
Tidak ada yang bisa menembus Iran, kecuali kita menginginkannya, dan tidak ada yang akan menembus, kecuali Kesepakatan, atau Penyerahan Total, tercapai,' tulisnya.
Pola yang Berulang
Peristiwa Senin tampaknya sesuai dengan pola sejak Trump meluncurkan 'Operasi Epic Fury' bersama Israel lebih dari lima bulan lalu.
Trump telah beberapa kali mengancam aksi militer, hanya untuk kemudian menyebut kontak diplomatik sebagai alasan untuk mundur.
Iran, bagaimanapun, secara terbuka menolak negosiasi dengan Washington sejak runtuhnya nota kesepahaman pada awal Juli yang ditandatangani kedua pihak pada bulan sebelumnya, yang bertujuan mengakhiri konflik.
Trump belum mencapai tujuan yang ia tetapkan pada awal perang: membongkar program nuklir Iran, membatasi kemampuannya untuk menyerang saingan regional, dan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk menggulingkan penguasa ulama mereka.
Tindakan AS yang berulang kali dijawab dengan eskalasi respons Iran terhadap pasukan AS di kawasan, sekutu Teluk Washington, dan pelayaran, setiap kali berakhir dengan Trump mundur.
>>> Daniel Kaiser Meninggal di Swiss, Susi Pudjiastuti Umumkan Kabar Duka
Sengketa Hormuz tetap menjadi titik sentral perselisihan, dengan Washington mengatakan nota Juni mewajibkan Iran untuk membuka jalur air strategis, sementara Teheran mengatakan teks tersebut secara eksplisit mempertahankan otoritasnya atas lalu lintas pelayaran.
