Korea Selatan resmi meluncurkan Program Kerja Sama Internasional untuk Konservasi (ICPC) pada Selasa (5/8/2025).
Program intensif 60 hari ini merupakan perluasan strategis dari program pelatihan teknis unggulan Korea yang sebelumnya hanya berfokus pada kemitraan Asia.
>>> Seoul Perbarui Portal Wisata VisitSeoul untuk Turis Asing
Lima pakar dari berbagai negara terpilih melalui proses seleksi kompetitif yang diikuti 31 negara.
Mereka adalah David Nkusi dari Universitas Rwanda, Zilola Tulkinova dari Akademi Ilmu Pengetahuan Uzbekistan, Phub Thinley dari Perpustakaan dan Arsip Nasional Bhutan, Fernando Andres Zambrano Luque dari Institut Warisan Budaya Nasional Ekuador, dan Mohamed Nuhaad dari Pusat Warisan Budaya Nasional Maladewa.
Program Magang dan Kurikulum
Program yang berlangsung hingga 1 Oktober ini memasangkan setiap peneliti dengan mentor Korea untuk bimbingan teknis langsung. Kurikulum menggabungkan konservasi laboratorium berteknologi tinggi dengan aplikasi lapangan.
Para peserta akan mengunjungi zona bersejarah utama Korea, termasuk istana kerajaan Seoul dan ibu kota kuno seperti Gyeongju, Iksan, dan Buyeo.
Mereka akan mengamati bagaimana Korea menggabungkan teknologi modern dengan praktik restorasi tradisional.
Setiap peserta membawa tantangan pelestarian yang berbeda dari negara asal.
>>> Korea Selatan Gelar Kontes Big Data untuk Dorong Pariwisata Daerah
Topik yang dieksplorasi meliputi pengelolaan reruntuhan arkeologi berbasis komunitas, analisis kimia pigmen patung Buddha, pelestarian blok kayu cetak kuno, arsitektur tradisional komparatif, dan strategi ketahanan iklim untuk melindungi warisan pulau dari naiknya permukaan laut.
Perluasan dari Program Asia
Peluncuran ICPC dibangun di atas fondasi 20 tahun Program Kerja Sama Asia untuk Ilmu Konservasi.
Program sebelumnya telah melatih 120 spesialis dari 19 negara Asia antara 2005 dan 2025.
Institut berencana untuk secara bertahap meningkatkan ukuran kelas dan durasi tinggal program dalam beberapa tahun mendatang.
Mereka juga akan menyempurnakan inisiatif bersama dengan organisasi global seperti Pusat Internasional untuk Studi Pelestarian dan Restorasi Properti Budaya.
Melalui program ini, pejabat warisan Korea bertujuan untuk memperluas bantuan teknis ke Amerika Latin, Afrika, dan negara kepulauan.
>>> Seoul Akan Perkenalkan Budaya Baca di Luar Ruangan pada KTT Perpustakaan Global di Busan
Mereka ingin memposisikan warisan Korea sebagai standar global untuk pelestarian budaya dan kerja sama penelitian internasional.
