WASHINGTON — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan won Korea Selatan mengalami "volatilitas berlebih".
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan CNBC, Selasa (5/8/2025), setelah AS dan Jepang melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing pekan lalu.
>>> Iran dan Oman Maju dalam Kesepakatan Buka Selat Hormuz
Intervensi tersebut merupakan langkah langka untuk mengatasi pelemahan tajam yen terhadap dolar AS.
Pentingnya Yen yang Stabil
Bessent menekankan bahwa yen yang stabil tidak hanya penting bagi AS, tetapi juga bagi seluruh kawasan.
"Jika yen melemah secara substansial, maka mata uang lain akan mengikutinya," ujarnya.
Ia juga menyebut telah melihat "volatilitas berlebih" pada won Korea.
Mengaku sebagai sejarawan ekonomi, Bessent berpendapat krisis keuangan Asia pada 1990-an sebagian dipicu oleh yen yang "terlalu lemah".
Mengomentari intervensi pasar baru-baru ini, ia berharap kebijakan yang tepat di Jepang akan membawa yen kembali ke "harga keseimbangan yang lebih normal".
Menurutnya, mengingat arus perdagangan Jepang, ukuran ekonominya, dan kontribusinya pada pasar tabungan global, yen yang stabil sangat penting.
>>> 41 dari 105 Korban TPPO Jaringan Libya Belum Dipulangkan ke Indonesia
"Pemerintah Jepang memahami hal itu, dan kami bangga berdiri bersama mereka dalam menerapkan kebijakan mereka dan membantu menstabilkan kawasan," kata Bessent.
Saat ditanya tentang kemungkinan intervensi mata uang tambahan, Bessent mengatakan Washington berkomunikasi secara "dekat" dan "terus-menerus" dengan Tokyo.
Ia menegaskan akan "melakukan apa pun" untuk mendukung Jepang dengan cara yang membantu ekonomi AS, pembayar pajak Amerika, dan menstabilkan ekonomi global.
Mengenai "carry trade", strategi di mana investor meminjam yen atau mata uang berbunga rendah lain untuk diinvestasikan pada aset berbunga tinggi, Bessent memprediksi praktik ini tidak akan hilang sepenuhnya.
"Jepang memiliki surplus aset luar negeri yang sangat besar, dan mereka menyediakan likuiditas bagi seluruh dunia," jelasnya.
"Japan Inc. sejak tahun 70-an, 80-an, hingga 90-an sampai sekarang telah mengakumulasi aset luar negeri yang substansial, dan saya tidak melihat alasan untuk itu berhenti."
>>> Tuntutan Dua Terdakwa Kasus Injak Al-Qur'an di Lebak Berbeda, Massa Minta Hukuman Lebih Berat
Ia menambahkan bahwa tingkat yen yang bisa memicu masalah lain atau devaluasi kompetitif, yang tidak sehat.

