unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Yen Melemah, Saham Jepang Melonjak Usai BOJ Naikkan Suku Bunga
News

Yen Melemah, Saham Jepang Melonjak Usai BOJ Naikkan Suku Bunga

Gedung Bank of Japan di Tokyo, Jepang
Yen Melemah, Saham Jepang Melonjak Usai BOJ Naikkan Suku Bunga
A A Ukuran Teks16px

Yen melemah setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga dalam langkah yang sudah banyak diperkirakan pasar.

Dua anggota dewan memberikan suara berbeda, memunculkan keraguan soal seberapa agresif kebijakan pengetatan akan dilanjutkan.

Saham Jepang justru melonjak, terbantu oleh pelemahan mata uang yang meningkatkan nilai pendapatan luar negeri saat dikonversi ke yen.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 2 tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter, turun 2,5 basis poin menjadi 1,835 persen per 0442 GMT.

"Kenaikan suku bunga itu sendiri sesuai ekspektasi pasar, tetapi dua suara berbeda menjadi kejutan moderat," kata Hirofumi Suzuki, kepala strategi valuta asing di SMBC Tokyo.

Menurutnya, hasil tersebut sedikit meredam ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dan memberi kesan dovish.

Yen memperpanjang penurunan awal menjadi sekitar 0,7 persen ke 157,085 per dolar, mendekati level terendah sesi di 157,145.

Itu menjadi level terlemah sejak 3 September.

Di tengah kondisi itu, Nikkei melonjak 1,7 persen ke 65.221,53, menembus level psikologis 65.000 untuk pertama kali dalam lebih dari sepekan.

Indeks sebelumnya naik 0,8 persen pada jeda tengah hari.

Saham teknologi memimpin reli, dengan pembuat peralatan chip Lasertec dan Advantest masing-masing melonjak 9 persen dan 7,3 persen.

Keputusan Bank of Japan diumumkan saat jeda perdagangan saham dan obligasi.

BOJ menaikkan suku bunga utama ke level tertinggi 31 tahun sebesar 1,25 persen, sesuai perkiraan luas.

Langkah ini menyusul Federal Reserve Amerika Serikat beberapa hari sebelumnya dan Bank Sentral Eropa pekan lalu dalam mengetatkan kebijakan untuk melawan tekanan inflasi dari lonjakan harga minyak mentah.

Dua Suara Berbeda dan Sorotan pada Ueda

Anggota dewan yang bersikap dovish, Toichiro Asada dan Ayano Sato, keduanya ditunjuk oleh Perdana Menteri reflasionis Sanae Takaichi, berbeda pendapat dalam keputusan tersebut.

Perhatian kini tertuju pada konferensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda pukul 0630 GMT, saat pasar mencari petunjuk soal laju dan cakupan pengetatan kebijakan lanjutan.

"Mungkin sebagian terkejut karena dua anggota menentang keputusan dan mungkin sebagian mengharapkan kenaikan 50 basis poin," kata Tohru Sasaki, kepala strategi di Fukuoka Financial Group.

"Ueda-san harus sangat hawkish untuk menahan yen dari depresiasi, tetapi saya pikir agak sulit baginya untuk se-hawkish itu," ujar Sasaki.

"Dia harus mengatakan bahwa BOJ kemungkinan akan menaikkan suku bunga kebijakan lagi dalam tahun ini."

Setelah langkah Jumat itu, pasar memperkirakan BOJ akan terus menaikkan suku bunga dalam kenaikan 25 basis poin sekitar sekali per kuartal, dua kali lipat dari laju pengetatan sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 5 tahun memperpanjang penurunan, serupa dengan tenor 2 tahun, turun 3 basis poin menjadi 2,265 persen.

Namun, imbal hasil tenor 10 tahun mengurangi penurunan meski masih turun 0,5 basis poin pada hari itu menjadi 2,985 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang super panjang berbalik naik, dengan tenor 20 tahun naik 1,5 basis poin menjadi 3,85 persen dan tenor 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,105 persen.

Obligasi berjangka panjang cenderung mencerminkan pandangan soal inflasi dan keberlanjutan fiskal.

"Perbedaan pendapat dua anggota menunjukkan tekanan politik terhadap BOJ belum sepenuhnya hilang," kata Kanako Nakamura, ekonom di Daiwa Institute of Research.

Menurutnya, penunjukan kembali Menteri Ekonomi Minoru Kiuchi dalam perombakan kabinet juga menandakan dukungan berlanjut bagi kebijakan fiskal ekspansif.

Hal itu memunculkan kekhawatiran bahwa stimulus fiskal dapat menambah tekanan inflasi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru