unique visitors counter
⌂ Beranda › News › AKRA Laba Bersih Kuartal III 2026 Naik 66 Persen, Ditopang Lahan JIIPE
News

AKRA Laba Bersih Kuartal III 2026 Naik 66 Persen, Ditopang Lahan JIIPE

Ilustrasi kawasan industri terpadu JIIPE yang menopang kinerja AKRA
AKRA Laba Bersih Kuartal III 2026 Naik 66 Persen, Ditopang Lahan JIIPE
A A Ukuran Teks16px

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mencatatkan laba bersih Rp 780 miliar pada kuartal III 2026.

Angka itu meningkat 66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan kinerja ditopang pemulihan margin distribusi serta peningkatan penjualan lahan industri.

Secara akumulatif, laba bersih perusahaan selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp 2,21 triliun atau bertambah 34 persen secara tahunan.

Laba bersih inti atau Core Profit After Tax and Minority Interests (PATMI) tumbuh 32 persen menjadi Rp 2,17 triliun.

Margin distribusi dan penjualan lahan jadi penopang

Perbaikan profitabilitas terlihat pada segmen perdagangan dan distribusi.

Pendapatan lini bisnis tersebut naik 38 persen secara tahunan menjadi Rp 14,0 triliun pada kuartal ketiga 2026.

Pertumbuhan itu ditopang bisnis petroleum sebesar 43 persen dan bahan kimia sebesar 19 persen.

Margin kotor distribusi juga meningkat signifikan, memperkuat kontribusi segmen tersebut terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Analis Sucor Sekuritas Giovanus Marcell Lie mencatat margin kotor distribusi naik menjadi 6,9 persen pada kuartal ketiga, dibandingkan 4,6 persen pada kuartal kedua.

Realisasi laba sembilan bulan disebut telah mencapai 86 persen dari prakiraan tahunan Rp 2,56 triliun.

Menurut Giovanus, capaian itu melampaui ekspektasi karena kuartal keempat secara historis merupakan periode dengan kinerja lebih kuat secara musiman.

Kawasan industri terpadu Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan AKRA.

Sepanjang kuartal III 2026, perusahaan menjual lahan seluas 35 hektare sehingga total penjualan lahan sembilan bulan mencapai 93 hektare.

Capaian tersebut melampaui panduan manajemen untuk penjualan lahan sepanjang tahun pada kisaran 80 hektare hingga 90 hektare.

Analis J. P.

Morgan Arnanto Januri menghitung setiap penjualan lahan seluas 1 hektare menyumbang sekitar Rp 4 miliar hingga Rp 5 miliar terhadap laba bersih AKRA.

Bisnis utilitas JIIPE turut tumbuh seiring beroperasinya fasilitas smelter Freeport.

Pendapatan segmen utilitas mencapai rekor kuartalan sebesar Rp 305 miliar pada kuartal ketiga 2026.

Pendapatan segmen ini diproyeksikan mencapai Rp 1,6 triliun pada 2027 dan Rp 2,3 triliun pada 2028.

Prospek AKRA juga dipengaruhi kondisi pasokan bahan bakar diesel global.

Ketidakpastian ketersediaan produk olahan minyak diperkirakan mempertahankan ketatnya pasar diesel setidaknya hingga paruh kedua 2026.

Arnanto menilai kondisi itu dapat memberi peluang bagi perusahaan untuk memperluas pangsa pasar.

Crack spread yang lebih tinggi dan harga diesel yang lebih mahal dinilai memungkinkan AKRA meningkatkan pangsa pasar seiring kendala modal kerja yang dihadapi pelaku pasar lebih kecil.

Di sisi keuangan, AKRA mempertahankan posisi kas bersih sebesar Rp 1,1 triliun pada akhir September 2026.

Perusahaan juga memiliki siklus konversi kas yang tetap negatif, didukung neraca keuangan yang dinilai sehat.

Meski demikian, investor perlu memperhatikan risiko operasional, termasuk proses penjualan lahan yang lebih lambat dari perkiraan serta kemungkinan intervensi harga bahan bakar.

Giovanus dari Sucor Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham AKRA dengan target harga Rp 1.710 per saham.

Sementara itu, Arnanto Januri dari J. P.

Morgan memberikan rekomendasi overweight dengan target harga Rp 1.850 per saham.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru