Perkembangan artificial intelligence (AI) yang pesat menjadi pendorong utama transformasi digital di sektor jasa keuangan.
Pemanfaatan AI terbukti meningkatkan efisiensi operasional, analisis credit scoring, hingga kecepatan mendeteksi kejahatan siber.
>>> BGN Ancam Tutup Permanen Dapur MBG yang Tak Penuhi Standar, Tenggat 10 Agustus
Namun, inovasi AI juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menjalankan modus penipuan yang semakin canggih, mulai dari fraud hingga deepfake.
Menanggapi hal tersebut, PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pertahanan siber secara proaktif.
Komitmen tersebut disampaikan dalam diskusi panel AI Cyber Forum 2026: “AI vs. AI: Membangun Pertahanan Siber Proaktif di Sektor Keuangan Indonesia” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) pada 29 Juli.
Acara itu turut dihadiri oleh perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berbagai pelaku industri, mulai dari perusahaan teknologi finansial hingga firma cybersecurity.
Human Oversight dalam Adopsi AI
Public Policy Manager AdaKami, Hanadia Pasca Yurista, menekankan pentingnya human oversight dalam adopsi AI.
“AdaKami mengoptimalkan penggunaan AI untuk meningkatkan efektivitas proses bisnis, mulai dari efisiensi analisis risiko, deteksi fraud, hingga otomatisasi layanan kepada konsumen,” ujarnya.
>>> Spesifikasi Mobil Listrik Honda Super-ONE Seharga Rp438 Juta
“Namun, dalam implementasinya, kami memegang teguh prinsip human oversight, di mana AI berperan sebagai instrumen pendukung, sedangkan keputusan yang berdampak langsung terhadap konsumen tetap berada di tangan manusia,” jelas Hanadia.
Pendekatan ini memastikan seluruh kegiatan operasional AdaKami berjalan secara akuntabel dan sepenuhnya patuh terhadap UU Pelindungan Data Pribadi serta Pedoman Kode Etik AI Industri Jasa Keuangan yang diawasi langsung oleh OJK.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kepala Bidang Talent Development ADIGSI, Dr. Charles Lim, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun tata kelola AI.
“Kolaborasi erat antara pemerintah, asosiasi, akademisi, masyarakat, dan pelaku industri seperti AdaKami menjadi kunci dalam membangun ekosistem keamanan siber yang mampu menjawab tantangan di masa depan,” katanya.
AdaKami, pinjaman daring yang berizin dan diawasi OJK, secara berkelanjutan menggelar berbagai program edukasi penanganan fraud dan penipuan digital yang berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
>>> BKI Catat Pendapatan Rp1,5 Triliun pada 2025, Laba Operasi dan Arus Kas Ikut Meningkat
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan literasi masyarakat dalam mengenali modus penipuan, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta memanfaatkan layanan keuangan digital secara aman dan bertanggung jawab.
