Penampilan Massive Attack di Pentaport Rock Festival Incheon pada 1 Agustus lalu memicu kontroversi politik.
Band asal Bristol itu membawakan lagu 'Regret of the Times' milik Seo Taiji & Boys sebagai bentuk penghormatan.
>>> Kubu Sarwendah Pamer Dokumen Peringatan Bank soal Lelang Rumah
Namun, seorang anggota Dewan Kota Incheon dari Partai Kekuatan Rakyat, Lee Beom-seok, berencana mengangkat masalah ini dalam audit administratif terhadap Organisasi Pariwisata Incheon.
Lee menilai penampilan tersebut menyebarkan narasi palsu terkait peristiwa Gwangju.
Latar Belakang Lagu dan Kontroversi
'Regret of the Times' yang dirilis pada 1995 pernah menjadi pusat pertarungan sensor.
Seo Taiji & Boys menolak memenuhi persyaratan pra-sensor pemerintah, yang akhirnya berkontribusi pada penghapusan sistem sensor musik di Korea.
Massive Attack mengemas ulang lagu tersebut dengan sebagian lirik asli berbahasa Korea dan sebagian dalam bahasa Inggris. Mereka menyebutnya sebagai bentuk solidaritas dengan warisan perlawanan terhadap sensor.
Dalam unggahan media sosial, band ini menulis bahwa lagu tersebut 'melawan pemerintah otoriter dan menang'. Mereka juga menyebutnya sebagai 'tindakan kesinambungan, kebangkitan, dan solidaritas' dengan Seo Taiji & Boys.
Video dan Tuduhan Narasi Palsu
Selama penampilan, layar menampilkan video yang memuat rekaman gerakan pro-demokrasi Gwangju 1980 dan cuplikan yang mengutuk aksi Israel di Gaza.
Video tersebut telah menjadi bagian dari pertunjukan Massive Attack sejak Mei.
Lee Beom-seok menyoroti keterangan yang muncul di layar yang menyebut Amerika Serikat 'mendukung pembantaian warga sipil oleh pemerintah Korea' pada 1980.
>>> Google Pixel 11 Meluncur 12 Agustus 2026, Ini yang Harus Kamu Tahu
Ia mengklaim narasi itu hanya disebarkan oleh Korea Utara.
Lee merujuk pada Undang-Undang Khusus tentang Gerakan Demokratisasi 18 Mei yang mengkriminalisasi penyebaran informasi palsu tentang peristiwa tersebut.
