unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Gimbap Berisiko bagi Kesehatan saat Gelombang Panas

Gimbap Berisiko bagi Kesehatan saat Gelombang Panas

Gimbap Berisiko bagi Kesehatan saat Gelombang Panas
Ilustrasi: Gimbap Berisiko bagi Kesehatan saat Gelombang Panas
A A Ukuran Teks16px

Gimbap, nasi gulung berisi berbagai lauk, sering menjadi pilihan bekal saat mendaki atau piknik karena praktis dan mudah dibawa.

Namun, di musim panas, gimbap termasuk makanan yang paling sering menyebabkan keracunan makanan jika disimpan tidak tepat.

>>> Dari Turtle Chips hingga Kopi Susu Pisang: Makanan Korea yang Wajib Dicoba

Bahkan jika tampilan dan baunya masih normal, bakteri dapat berkembang biak dengan cepat. Karena itu, kewaspadaan ekstra diperlukan selama gelombang panas.

Kenapa Gimbap Rentan?

Gimbap terbuat dari nasi matang dan bahan lain seperti telur, ham, crab stick, bayam, dan acar lobak.

Proses pembuatannya melibatkan banyak bahan yang dipegang tangan dan biasanya dimakan tanpa dipanaskan ulang.

Kondisi ini menjadi lingkungan yang baik bagi pertumbuhan bakteri.

Bahan kaya protein seperti telur, ham, fish cake, dan crab stick sangat rentan terhadap pertumbuhan bakteri di cuaca panas.

Kombinasi dengan nasi matang yang lembap menciptakan lingkungan ideal bagi patogen penyebab penyakit bawaan makanan untuk berkembang biak.

Dua Jam Saja Berisiko

Kementerian Keamanan Makanan dan Obat-obatan Korea serta Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea merekomendasikan makanan matang tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam.

Saat gelombang panas dengan suhu di atas 35 derajat Celsius, bakteri dapat berkembang biak jauh lebih cepat.

Bakteri umum seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus dapat berkembang biak dengan cepat saat makanan mendingin atau disimpan.

>>> Museum Seoul Rayakan Hari Kemerdekaan dengan Konser Orkestra Remaja

Beberapa strain menghasilkan racun yang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya meskipun makanan dipanaskan ulang.

Baunya Normal Belum Tentu Aman

Banyak orang mengira makanan aman jika bau dan penampilannya tidak berubah. Padahal, bakteri berbahaya tidak bisa dideteksi dari penampilan atau bau.

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru
stikibot