unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Desil Kesejahteraan Jadi Acuan Bansos dan Larangan Beli Pertalite
News

Desil Kesejahteraan Jadi Acuan Bansos dan Larangan Beli Pertalite

Ilustrasi desil kesejahteraan untuk bansos dan pembatasan BBM
Desil Kesejahteraan Jadi Acuan Bansos dan Larangan Beli Pertalite
A A Ukuran Teks16px

Pemerintah menjadikan tingkatan desil kesejahteraan sebagai acuan utama dalam penyaluran bantuan sosial. Skema ini juga dipakai untuk membatasi akses BBM bersubsidi jenis Pertalite bagi kelompok mampu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengemukakan rencana penyekatan pembelian Pertalite khusus masyarakat kelas atas. Larangan tersebut menyasar kelompok penerima berpendapatan tinggi.

Penerapan pembatasan BBM bersubsidi ini direncanakan berjalan secara berjenjang. Langkah tersebut bertujuan memastikan alokasi subsidi negara tepat sasaran.

Apa Itu Desil Kesejahteraan?

Pengelompokan desil membagi susunan masyarakat ke dalam sepuluh tingkatan tingkat ekonomi. Pembagian diurutkan mulai dari taraf paling rendah hingga kelompok paling sejahtera.

Angka desil terkecil menandakan kondisi kesejahteraan yang amat terbatas. Sebaliknya, angka terbesar menunjukkan kelompok masyarakat dengan daya finansial paling mapan.

Penentuan urutan desil menjadi rujukan krusial bagi pemerintah pusat. Data ini memetakan skala prioritas penerima berbagai program bantuan sosial reguler.

Kelompok Desil 1 mencakup warga dengan kondisi ekonomi paling bawah. Warga pada tingkatan ini umumnya tidak memiliki mata pencaharian tetap dan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok harian.

Posisi Desil 1 menempati prioritas paling atas dalam menerima program bantuan sosial. Negara memberikan proteksi penuh untuk menjaga kelangsungan hidup kelompok ini.

Kelompok Desil 2 diisi oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka sangat rentan mengalami guncangan ekonomi akibat fluktuasi harga bahan pangan pokok.

Ketiadaan tabungan darurat membuat warga Desil 2 mudah terdampak inflasi. Tekanan ekonomi sedikit saja dapat mengganggu stabilitas dapur mereka.

Golongan Desil 3 tergolong kelompok masyarakat hampir miskin. Walau belum tergolong miskin ekstrem, posisi mereka sangat dekat dengan garis kemiskinan.

Risiko penurunan taraf hidup Desil 3 meningkat saat terjadi pemutusan hubungan kerja. Gangguan kondisi ekonomi nasional juga bisa memicu pergeseran status mereka.

Kelompok Desil 4 berada pada kategori rentan miskin dengan kondisi keuangan relatif stabil. Kendati demikian, musibah bencana alam atau sakit keras dapat mengguncang ketahanan finansial mereka.

Warga pada Desil 4 masih berpeluang mendapatkan bantuan sosial. Pemerintah memberikan intervensi khusus sesuai kondisi darurat yang dialami penerima.

Desil 5 menggambarkan kondisi masyarakat berperekonomian pas-pasan. Kelompok ini mayoritas memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan dasar.

Walau kondisi finansial relatif aman, ruang gerak ekonomi Desil 5 masih terbatas. Mereka tetap berhak mengakses beberapa jenis bantuan sosial tertentu dari pemerintah.

Sementara itu, Desil 6 hingga Desil 10 masuk dalam kategori masyarakat kelas menengah ke atas. Kelompok ini memiliki penghasilan stabil sehingga terbebas dari risiko kemiskinan mendadak.

Warga pada Desil 6 ke atas tidak menjadi prioritas penerima bantuan sosial reguler. Khusus Desil 9 dan Desil 10, pemerintah merancang aturan larangan membeli Pertalite.

Sifat Dinamis dan Pembaruan Data Desil

Penetapan status desil masyarakat tidak bersifat permanen atau seumur hidup. Peringkat kesejahteraan ini dapat berubah mengikuti kondisi ekonomi aktual tiap keluarga.

Pemerintah terus memperbarui data kesejahteraan masyarakat secara berkala. Proses ini melibatkan penyandingan data lintas kementerian serta pelaksanaan survei langsung di lapangan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru