Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan utusan AS Jared Kushner membahas penempatan seorang jenderal Amerika untuk memverifikasi perlucutan senjata Hamas, kata seorang pejabat Israel, Senin.
Pembahasan itu terjadi saat Netanyahu menegaskan tidak akan menarik pasukan dari Gaza sebelum Hamas dilucuti.
>>> Menteri Pertahanan Jepang: Kerja Sama AS-Korsel Krusial untuk Keamanan
Kushner, menantu Presiden Donald Trump, terbang ke kawasan itu setelah Netanyahu menolak bagian terbaru dari rencana AS untuk mengakhiri perang Gaza.
Kushner bertemu Netanyahu di Yerusalem sehari setelah melakukan pembicaraan langsung yang jarang terjadi dengan Hamas di Mesir.
Kesepakatan soal pengawasan AS
Kedua pihak sepakat tidak akan ada penempatan kembali atau rekonstruksi di Jalur Gaza sebelum Hamas dilucuti di seluruh Gaza.
Langkah pertama menuju demiliterisasi adalah meminta Hamas menyerahkan senjatanya untuk dinonaktifkan di bawah pengawasan seorang jenderal AS.
Kushner didampingi anggota lain dari Dewan Perdamaian untuk Gaza, termasuk mantan PM Inggris Tony Blair. Kelompok itu belum berkomentar.
Pemerintahan Trump telah memberi peran pada militer AS dan pasukan asing untuk mengawasi gencatan senjata Oktober di Gaza.
>>> Telkomsat Percepat Pemulihan Jaringan di NTT dengan Satelit
Sikap keras Netanyahu
Seruan keterlibatan jenderal AS muncul setelah Netanyahu menolak teks awal Dewan Perdamaian yang menyebut Hamas akan menyerahkan senjata ke komite pemerintahan Palestina.
Dalam pembicaraan di Mesir, Kushner menuntut Hamas memverifikasi penyerahan senjata dan melepaskan peran masa depan dalam pemerintahan Palestina.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kelompok itu, yang diwakili pemimpin barunya Khalil al-Hayya, menyatakan komitmen pada rencana Gaza dan ingin tekanan pada Netanyahu.
Netanyahu, yang menghadapi pemilu 27 Oktober, semakin berani menentang Trump. Ia juga kecewa dengan keputusan Trump menghentikan perang melawan Iran.
Menteri keamanan nasional sayap kanan Itamar Ben Gvir bahkan menyerukan pembunuhan massal di Gaza, dengan mengatakan 30-40 orang harus dibunuh setiap malam.
Delapan negara mayoritas Muslim, termasuk Arab Saudi, Mesir, dan UEA, mengutuk penolakan Israel terhadap rencana Gaza dalam pernyataan bersama.
>>> Link Live CCTV Demo BEM UI 18 Agustus 2026, Pantau Bundaran HI dan Monas
Israel melanjutkan serangan udara di Gaza setelah jeda singkat. Sejak gencatan senjata 10 Oktober, setidaknya 1.265 warga Palestina tewas, menurut kementerian kesehatan Gaza.

