unique visitors counter
⌂ Beranda IPTEK Survei Kantar: 80% Konsumen Indonesia Gunakan AI untuk Cari Produk
IPTEK

Survei Kantar: 80% Konsumen Indonesia Gunakan AI untuk Cari Produk

Survei Kantar: 80% Konsumen Indonesia Gunakan AI untuk Cari Produk
A A Ukuran Teks16px

Cara konsumen menemukan dan memilih produk mulai berubah seiring meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Kini AI menjadi pintu masuk untuk mencari informasi dan mempertimbangkan sebuah brand.

>>> Ugreen Rilis Docking Charger Qi2 25W dengan Layar dan Pendingin Aktif

Perubahan tersebut menjadi sorotan dalam acara Onward by Kantar: Shape Indonesia's Future, Together yang digelar Kantar Indonesia di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Kantar mencatat delapan dari sepuluh konsumen Indonesia telah mencoba generative AI, menjadikan Indonesia negara dengan tingkat penggunaan Gen-AI tertinggi secara global.

Perkembangan ini mengubah perjalanan konsumen, termasuk cara mereka menemukan, membandingkan, hingga berinteraksi dengan brand.

AI Search kini mulai menjadi titik penting dalam perjalanan tersebut.

Perusahaan tidak cukup hanya memastikan produknya mudah ditemukan melalui mesin pencari konvensional, tetapi juga perlu memahami bagaimana brand mereka dipersepsikan dalam ekosistem pencarian berbasis AI.

Telkomsel Sederhanakan Portofolio

VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, mengatakan perusahaan harus terus membaca perubahan tersebut dan tidak terpaku pada strategi yang sebelumnya berhasil.

“Banyak perubahan behavior customer,” ucapnya.

Menurut Fahmi, teknologi digital membuat konsumen semakin mudah memperoleh informasi sekaligus membandingkan berbagai pilihan.

>>> One UI 9.5 Dikabarkan Punya Fitur Widget Kustom Berbasis AI

Kondisi itu membuat segmentasi lama tidak selalu relevan untuk menentukan kebutuhan pelanggan.

Telkomsel pernah menutup brand Loop dan Kartu As, meski keduanya memiliki basis pelanggan besar.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menyederhanakan portofolio ketika pola perilaku konsumen berubah.

Alih-alih mempertahankan banyak brand, sejumlah manfaat dari kedua layanan tersebut diarahkan ke brand dengan ekuitas lebih kuat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah perangkat yang digunakan konsumen, tetapi juga memengaruhi cara perusahaan membangun hubungan dengan pelanggan.

Dari Preferensi ke Kepercayaan

Menurut Fahmi, perubahan juga terjadi dalam cara perusahaan berkomunikasi dengan konsumennya.

Ketika berada di fungsi brand communication, fokus utamanya adalah membangun preferensi.

Namun, ketika masuk ke ranah corporate communication, tantangannya berkembang menjadi membangun kepercayaan.

>>> AirPods Berkamera Apple Dilaporkan Tetap Meluncur 2027 Meski Video Demo Bocor

“Ketika saya di brandcom, objektifnya adalah preference customer. Tapi ketika saya di corcom, bagaimana customer itu menjadi trust,” ujarnya.

📰 Update Terbaru
stikibot