unique visitors counter
⌂ Beranda News Tragis dan Penuh Sandiwara: Kronologi Lengkap Ayah di Merauke yang Bunuh Anak Kandung Disabilitas Setelah 9 Bulan Menipu Publik
News

Tragis dan Penuh Sandiwara: Kronologi Lengkap Ayah di Merauke yang Bunuh Anak Kandung Disabilitas Setelah 9 Bulan Menipu Publik

Tragis dan Penuh Sandiwara: Kronologi Lengkap Ayah di Merauke yang Bunuh Anak Kandung Disabilitas Setelah 9 Bulan Menipu Publik
mayat • pixabay
A A Ukuran Teks16px

Topeng kesedihan yang selama ini dipakai seorang pria berinisial MRP alias Maulana di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, akhirnya runtuh. Setelah hampir sembilan bulan menjalani proses penyelidikan yang intensif, polisi membongkar sebuah realitas kelam yang bertolak belakang dengan narasi awal yang sempat menguras air mata publik.
 
Pria yang sebelumnya dikenal luas sebagai sosok ayah yang tegar dan tabah menghadapi kehilangan putrinya, kini justru resmi ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan berencana terhadap anak kandungnya sendiri, Julia Risky Ramadiana (11). Yang membuat kasus ini semakin memilukan, Julia diketahui merupakan seorang penyandang disabilitas yang seharusnya berada dalam lingkup perlindungan dan kasih sayang penuh.
 

Ilusi Kesedihan yang Memikat Simpati Publik

Peristiwa ini bermula pada 28 Oktober 2025, ketika Maulana pertama kali melaporkan bahwa putrinya hilang. Saat itu, ia dengan lancar membangun narasi bahwa Julia menjadi korban pencurian dan penculikan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
 
Kisah yang disampaikan Maulana kepada media dan masyarakat setempat begitu meyakinkan. Ekspresi duka yang ia tunjukkan, ditambah dengan upayanya yang terlihat gigih mencari keberadaan sang anak, berhasil memancing gelombang simpati yang besar. Banyak pihak, termasuk tokoh masyarakat dan relawan, turut terlibat dalam pencarian, percaya bahwa mereka sedang membantu seorang ayah yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa buah hatinya.
 
Selama berbulan-bulan, narasi "penculikan" ini menjadi satu-satunya versi kebenaran yang beredar di permukaan. Maulana berhasil memposisikan dirinya sebagai korban keadaan, sementara bayang-bayang kecurigaan terhadap dirinya sendiri nyaris tidak tersentuh.
 

Titik Balik Penyidikan: Ketika Fakta Mulai Berbicara

Namun, kebenaran pada akhirnya tidak bisa disembunyikan selamanya. Kepolisian Resor (Polres) Merauke, di bawah komando Kapolres AKBP Leonardo Yoga, menolak untuk menelan mentah-mentah keterangan awal yang diberikan. Tim penyidik memutuskan untuk melakukan pendalaman secara menyeluruh terhadap seluruh rangkaian kejadian, melampaui sekadar pernyataan lisan tersangka.
 
Seiring berjalannya waktu, proses penyelidikan yang memakan waktu hampir sembilan bulan ini mulai menguak retakan dalam cerita Maulana. Sejumlah fakta objektif yang ditemukan di lapangan, mulai dari visum et repertum, analisis lokasi, hingga keterangan saksi-saksi terdekat, menunjukkan adanya ketidaksesuaian yang mencolok dengan versi "penculikan" yang selama ini digemborkan.
 
"Hasil penyidikan kami menunjukkan bahwa kematian Julia bukan disebabkan oleh aksi penculikan maupun pembunuhan oleh orang lain seperti narasi yang selama ini disampaikan," tegas Kapolres Merauke, AKBP Leonardo Yoga, dalam konferensi persnya.
 
Polisi menemukan bukti kuat yang mengarah pada satu kesimpulan mengerikan: korban meninggal dunia akibat kekerasan fisik yang justru dilakukan oleh orang yang seharusnya paling melindunginya, yaitu ayah kandungnya sendiri.
 

📰 Update Terbaru