unique visitors counter
⌂ Beranda News Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah
News

Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah

Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah
Ilustrasi Masjid
A A Ukuran Teks16px

Urgensi Takwa: Fondasi Kehidupan yang Sering Terlupakan

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
 
Mungkin terlintas di benak sebagian hadirin, mengapa seruan takwa—yakni menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya—selalu menjadi pembuka yang tak terpisahkan setiap kali khatib berdiri di atas mimbar? Jawabannya sangat fundamental: karena betapa krusialnya peringatan ini dalam menavigasi kehidupan kita yang semakin kompleks.
 
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa berbagai penyimpangan, keretakan, dan ketidakberesan yang terjadi saat ini—baik di ruang lingkup rumah tangga, lingkungan tempat kerja, hingga di ruang publik—akar utamanya adalah longgarnya benteng takwa dalam diri individu. Kita kerap lupa bahwa kita berada dalam pengawasan dan pantauan Allah SWT yang Maha Melihat. Kelalaian inilah yang kemudian memberi ruang bagi dosa, kesalahan, dan tindakan zalim untuk tumbuh subur.
 
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama berkomitmen untuk meningkatkan kualitas takwa kita. Jadikan kesadaran akan kehadiran Allah sebagai rem internal yang mencegah kita dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
 

Fathu Makkah: Puncak Pengendalian Diri dan Kasih Sayang

Hadirin Jamaah yang Berbahagia,
 
Jika umat Islam ditanya, siapa teladan utama yang wajib diikuti sepanjang masa, maka jawaban yang paling tepat dan pertama kali harus terlontar adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Al-Qur’an sendiri telah memberikan kesaksian atas kemuliaan ini melalui firman-Nya:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
 
Beliau adalah pembawa risalah yang diutus khusus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ketika Ummul Mukminin, Aisyah Radhiyallahu Anha, ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah sehari-hari, beliau menjawab dengan tegas dan penuh kekaguman: "Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an." Artinya, setiap tindak-tanduk beliau adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai Ilahi.
 
Dalam momentum yang penuh berkah ini, mari kita menyelami salah satu sifat paling menonjol dari beliau: sifat pemaaf. Sifat ini teruji secara paling dramatis pada peristiwa tahun ke-8 Hijriyah, saat Perjanjian Hudaibiyah secara sepihak dilanggar oleh kaum musyrikin Quraisy.
 
Pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata ini secara otomatis memberikan legitimasi kepada kaum muslimin untuk melakukan pembelaan, mengingat mereka telah lama didzalimi, diboikot, dan diusir dari tanah kelahiran mereka sendiri.
 
Singkat cerita, merespons pengkhianatan tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memimpin sepuluh ribu pasukan Muslim yang bergerak dari Madinah menuju Kota Makkah. Gelombang pasukan ini bagaikan badai yang tak terbendung.
 
Melihat kekuatan dahsyat tersebut, Abu Sufyan, sang dedengkot kafir Quraisy, dilanda kekhawatiran yang amat sangat. Ia tahu persis bahwa pasukannya tidak akan mampu menahan gempuran umat Islam. Hati Abu Sufyan tercabik-cabik oleh ketakutan. Bayangan tentang hilangnya jabatan sebagai pemimpin tertinggi, serta ancaman terhadap nyawanya, terasa begitu nyata. Ia yakin akan dibinasakan oleh orang-orang yang selama ini ia aniaya, siksa, dan hina tanpa ampun.
 

📰 Update Terbaru