unique visitors counter
⌂ Beranda News Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah
News

Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah

Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah
Ilustrasi Masjid
A A Ukuran Teks16px

Maaf Bukan Tanda Lemah, Melainkan Puncak Kekuatan Jiwa

Jamaah Jumat Rahimakumullah,
 
Sebagaimana disebutkan di awal khutbah, bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an, maka sifat pemaaf beliau adalah pengamalan langsung dari firman Allah SWT:
 
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Artinya: "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A’râf: 199).
 
Perlu kita tanamkan dalam pemahaman kita bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, kepasrahan, atau kekalahan. Sebaliknya, maaf yang tulus hanya bisa lahir dari jiwa-jiwa yang besar, yang telah matang secara spiritual.
 
Dengan membuka pintu maaf yang demikian luas, Nabi Muhammad SAW hendak menunjukkan sebuah kebenaran universal: bahwa pembalas dendam tidak akan pernah memperoleh kemuliaan sejati. Hal ini ditegaskan dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
 
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
Artinya: "Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan." (HR. Muslim).
 

Relevansi Sifat Pemaaf dalam Kehidupan Sehari-hari

Hadirin yang Dimuliakan Allah,
 
Secara lisan, mengucapkan kata "maaf" memang terdengar mudah. Namun, mempraktikkannya dalam kehidupan nyata adalah tantangan berat. Sebagian dari kita mungkin masih bergumul dengan pertanyaan: "Bagaimana mungkin saya bisa memaafkan orang yang pernah menghina, melecehkan, menghujat, atau bahkan melakukan kekerasan fisik dan verbal kepada saya?"
 
Jika pikiran seperti ini masih menghantui kita, maka kita harus segera kembali mengingat akhlak Rasulullah SAW. Kita harus mengingat apa yang diajarkan oleh sang suri tauladan kepada kita semua. Karena orang yang mampu memaafkan, akan diganjar dengan kemuliaan yang tak ternilai di dunia dan akhirat.
 
Coba kita renungkan sejenak dengan hati yang jernih: untuk apa kita memelihara dendam kepada seseorang? Justru, memelihara dendam akan menambah tabungan dosa dan penyakit dalam hati kita sendiri. Untuk apa kita membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan yang serupa, padahal Allah SWT sudah menyiapkan neraka sebagai balasan bagi para pelaku kezaliman?
 
Jika dalam relung hati kita masih terselip sifat dendam, kepada siapapun itu, maka sesungguhnya kita sendirilah yang sedang membuka pintu-pintu kehancuran dan neraka bagi diri kita sendiri. Dendam adalah racun yang kita minum, namun kita berharap orang lain yang mati karenanya.
 
Oleh karena itu, marilah kita bersihkan hati. Mudah-mudahan dengan menghilangkan dendam dan meniru akhlak pemaaf Nabi Muhammad SAW, kita semua termasuk dalam golongan umat yang paling dicintai beliau. Sehingga, kelak di hari kiamat, kita berhak mendapatkan syafa’at beliau. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
 
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةٍ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
 

📰 Update Terbaru