unique visitors counter
⌂ Beranda News Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah
News

Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah

Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Meneladani Kemuliaan Rasulullah SAW dalam Memaafkan Musuh di Momen Fathu Makkah
Ilustrasi Masjid
A A Ukuran Teks16px

Detik-Detik yang Menggetarkan: "Barangsiapa Masuk Rumah Abu Sufyan, Ia Aman"

Jamaah Jumat Rahimakumullah,
 
Namun, apa yang sesungguhnya terjadi ketika sepuluh ribu pasukan Muslim memasuki Kota Makkah? Betapa indahnya, betapa damainya sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah beserta para pengikutnya.
 
Pembantaian berdarah yang sangat dikhawatirkan oleh kaum musyrikin Quraisy, sama sekali tidak terjadi. Tidak ada satu pun darah yang tumpah. Patung-patung berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan dengan penuh hikmah, atas keinginan masyarakat sendiri yang telah sadar akan kebenaran.
 
Puncak dari keagungan akhlak ini terjadi ketika Rasulullah SAW berdiri dan berpidato di hadapan semua penduduk Makkah yang gemetar menunggu keputusan. Dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, beliau bersabda:
“Wahai penduduk Makkah, barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, dia akan dilindungi. Barangsiapa yang menutup pintu rumahnya, dia akan dilindungi. Dan barangsiapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia akan dilindungi.”
 
Subhanallah! Seketika itu juga, hati Abu Sufyan menjerit, bukan karena takut, melainkan karena menyaksikan keagungan akhlak musuh bebuyutannya sendiri. Ternyata, orang yang paling ia benci selama ini, adalah orang yang paling memahami kondisi batinnya yang sedang diselimuti ketakutan luar biasa.
 
Pidato Nabi tersebut tidak hanya memberikan jaminan keamanan fisik, tetapi juga secara tidak langsung mengangkat kembali derajat Abu Sufyan. Ia merasa 'disejajarkan' dengan kesucian Masjidil Haram. Rasa malu dan haru bercampur menjadi satu. Akhirnya, Abu Sufyan pun mengucapkan dua kalimat syahadat, disusul oleh anggota keluarganya dan para pengikutnya. Bahkan, putranya, Muawiyah bin Abu Sufyan, beberapa saat kemudian diangkat oleh Nabi sebagai salah seorang pencatat wahyu yang terpercaya.
 
Peristiwa bersejarah inilah yang kemudian dikenal sebagai Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). Kekuasaan politik dan militer yang mapan di tangan Rasulullah, sama sekali tidak menjadikan beliau bertindak semena-mena atau balasan dendam. Padahal, dengan kekuatan yang ada, beliau bisa saja membinasakan mereka dalam waktu singkat.
 
Namun, Rasulullah bukanlah pendendam. Justru melalui peristiwa inilah, dunia menyaksikan keluhuran Islam sebagai agama yang beradab, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan selaras dengan misi utama diutusnya Nabi Muhammad, yakni rahmatan lil ‘alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta).
 

📰 Update Terbaru