Pengakuan dan Warisan
Di tahun-tahun terakhirnya, ia menikmati ketenaran.
Ia bekerja sama dengan merek fashion seperti Louis Vuitton dan produk berlisensi seperti cangkir teh, kaos, dan gantungan kunci.
>>> Polri Terjunkan 403 Personel ke 8 Polda untuk Edukasi Cegah Karhutla
Pada 2008, karyanya terjual di Christie's seharga 5,8 juta dolar AS. Pada 2016, ia menerima Order of Culture, penghargaan paling prestisius di Jepang untuk seniman.
Saat menerima penghargaan, ia mengatakan, "Saya merasa hidup saya tinggal sedikit, tetapi saya masih berjuang sampai mati untuk seni saya.
Saya memberikan semua yang saya miliki agar banyak orang terus tertarik pada seni saya, bahkan setelah saya mati."
Kusama disebut pop, avant-garde, feminis, tetapi ia menepis kategori tersebut.
Ia lahir di keluarga kelas menengah dan merasa tidak dipahami karena orang tuanya ingin ia menikah, bukan melukis.
Ia memilih Amerika. Saat tiba di New York, trennya adalah "action painting", bukan titik-titik.
Ia mengalami kemiskinan dan ketidakjelasan, tetapi terus melukis titik.
Ia pernah menempelkan lingkaran kertas pada tubuh orang dan kuda dalam aksi anti-perang pada akhir 1960-an, yang membuat sebagian orang ditangkap karena tidak senonoh, tetapi menarik perhatian media.
Di New York, ia berteman dengan seniman seperti Andy Warhol, Georgia O'Keefe, dan Joseph Cornell.
Karya-karyanya yang terkenal antara lain "Macaroni Girl", "The Visionary Flowers", dan "Mirrored Corridor".
Kusama juga membuat film dan menerbitkan novel. Ia pernah berkata, "Saya pikir, 'Oh, saya menggambar itu?
Saya memikirkan itu.'"
Ia adalah pribadi yang menawan, campuran antara kerentanan dan perlawanan.
>>> Cek 5 Link CCTV Demo DPR Hari Ini, Antisipasi Kemacetan Jakarta
Di satu momen, ia menyebut dirinya "revolusioner artistik", di momen lain ia bergumam, "Saya sangat takut, sepanjang waktu, terhadap segalanya."