Modus 'Jatah Bulanan' dan Pesta Suap Impor
Gatot Heroe merupakan tersangka baru dalam jaringan kasus dugaan suap pengurusan impor di lingkungan Bea Cukai. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Gatot diketahui menerima total uang suap sebesar Rp 3,25 miliar dari bos PT BlueRay Cargo, John Field (JF). Uang ini diduga kuat sebagai imbalan agar Gatot memperlancar proses kepabeanan untuk perusahaan importir tersebut.
Taufik membeberkan bagaimana skema suap ini bekerja. Gatot menjadi salah satu pejabat yang diikutsertakan dalam pertemuan rahasia bersama Rizal (RZL), mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC, dengan John Field. Dalam pertemuan tersebut, John Field secara terang-terangan meminta bantuan untuk urusan impornya.
Mengetahui permintaan tersebut, Orlando Hamonangan (ORL), selaku Kepala Seksi Intelijen DJBC, langsung bertindak sebagai 'broker'. Orlando meminta John Field menyiapkan uang dengan nominal yang telah dibagi ke dalam beberapa pos atau 'jatah'.
"Untuk BC1 senilai Rp 3 miliar, BC2 sebesar Rp 2 miliar, dan BC3 sejumlah Rp 1 miliar. John Field pun menyanggupinya," ungkap Taufik.
Uang tersebut kemudian dialirkan sebagai 'jatah bulanan' kepada sejumlah pejabat Bea Cukai. Untuk jatah yang ditujukan ke Gatot Heroe, uang diserahkan melalui perantara Enov Puji Wijanarko (EPW), Kepala Seksi Penindakan Kepabeanan I, langsung di ruang kerja Enov.
Total Aliran Dana Rp 61,9 Miliar
Skala korupsi dalam kasus ini ternyata jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Taufik mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu Juli 2025 hingga Januari 2026, John Field telah menyetorkan uang ke berbagai pihak di lingkungan Bea Cukai dengan total mencapai Rp 61,9 miliar.
Dari total aliran dana haram tersebut, Gatot Heroe tercatat menerima bagian senilai Rp 3,25 miliar, yang sebagian di antaranya (Rp 2,8 miliar) kini telah disita KPK dari plafon rumahnya.