Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa negaranya tidak sedang berkomunikasi dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan di tengah fokus Washington untuk memberi hukuman ekonomi kepada Teheran.
"Kami tidak ingin berbicara dengan mereka.
>>> Raja Norwegia Harald V Wafat, Putranya Naik Takhta sebagai Haakon VIII
Kami tidak berencana untuk bertemu atau apa pun," kata Trump kepada wartawan di Oval Office, Kamis (28/8/2026).
Sebelumnya, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kampanye ekonomi AS akan terus berlanjut sampai Iran bersedia bernegosiasi secara serius.
"Sekarang kami punya Operation Economic Outcast untuk menghancurkan ekonomi mereka," ujar Leavitt dalam program "Fox & Friends".
"Tidak ada negosiasi yang terjadi saat ini, dan ini akan berlanjut sampai presiden merasa mungkin mereka datang ke meja perundingan dengan cara yang berarti...
Dia tentu saja tetap memiliki semua opsi di atas meja," tambahnya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah memperingatkan negara-negara lain untuk memutus hubungan finansial dengan Iran atau menghadapi sanksi sekunder.
Langkah itu disebut sebagai bagian dari "Economic D-Day".
Namun, Departemen Keuangan AS belum benar-benar menjatuhkan sanksi baru. Ketika ditanya apakah AS akan menghukum Rusia yang masih berbisnis dengan Iran, Trump menjawab, "Tergantung.
Sejauh ini, saya pikir Rusia berperilaku cukup baik terkait Selat Hormuz."
"Anda harus paham: untuk semua yang mereka lakukan, kami juga melakukannya. Ada yang bilang tentang China.
Bagaimana dengan China? Kami dengar mereka memata-matai.
Kami juga memata-matai mereka," lanjut Trump.
Saat ditanya apakah dia akan menjatuhkan sanksi kepada bank-bank China yang berbisnis dengan Iran, Trump menjawab, "Siapa bilang saya tidak?
Anda tidak tahu apakah saya melakukannya... Saya tidak harus mengumumkan semuanya, kan?"
Sementara itu, Perdana Menteri Qatar mengunjungi Teheran pada Kamis untuk mencoba meluncurkan kembali diplomasi.
Kunjungan itu terjadi setelah AS dan Iran saling menuduh terkait janji Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi.
>>> Perang Iran Ubah Timur Tengah, tapi Tak Sesuai Harapan AS dan Israel
Seorang pejabat Iran menggambarkan langkah AS sebagai "perang ekonomi menyeluruh".