Namun, pidatonya mengindikasikan bahwa suku bunga mungkin belum cukup tinggi untuk membawa inflasi ke target 2 persen Fed.
Warsh mengatakan data inflasi "lebih mengkhawatirkan" daripada tren di pasar tenaga kerja, di mana tingkat pengangguran rendah.
Data Inflasi dan Respons Pasar
Warsh juga berpendapat bahwa inflasi tidak mungkin kembali ke target dengan sendirinya.
Ia mencatat bahwa dalam setahun terakhir, 54 persen barang dan jasa yang dilacak pemerintah mengalami kenaikan harga 3 persen atau lebih.
>>> Polisi Amankan 322 Orang Usai Ricuh Demo DPR, Sita Sajam dan Pikap
Angka itu turun dari puncak pandemi, tetapi masih "jauh di atas" 32 persen yang mengalami kenaikan serupa dalam dua dekade sebelum pandemi.
Inflasi mendingin pada Juni dan Juli setelah melonjak pada Mei akibat harga bensin yang melonjak, namun tetap di atas target bank sentral.
Menurut ukuran yang disukai Fed, inflasi mencapai 3,7 persen pada Juli. Warsh juga berupaya mengklarifikasi beberapa area kebingungan yang muncul setelah pernyataannya pada konferensi pers 29 Juli.
Ia menegaskan bahwa suku bunga jangka pendek adalah "alat utama" yang dapat digunakan Fed untuk menurunkan inflasi.
Sebelumnya, ketua Fed sering menggunakan pidato di Jackson Hole untuk membahas pertanyaan luas tentang kebijakan suku bunga dan ekonomi, atau untuk memberi sinyal perubahan pendekatan.
Pada 2022, dengan inflasi era pandemi melonjak hingga 9,1 persen, pendahulu Warsh, Powell, memberi sinyal Fed akan terus menaikkan suku bunga secara tajam.
Powell juga mengakui bahwa langkah tersebut akan membawa "rasa sakit" bagi konsumen dan bisnis.
Sebagian besar analis memperkirakan Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah saat bertemu pada pertengahan September.
