unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Pameran Perdana Friedrich Kunath di Seoul: Rumah dalam Musik dan Melankolia
Lifestyle

Pameran Perdana Friedrich Kunath di Seoul: Rumah dalam Musik dan Melankolia

Pameran Friedrich Kunath di Pace Gallery Seoul
Pameran Perdana Friedrich Kunath di Seoul: Rumah dalam Musik dan Melankolia
A A Ukuran Teks16px

Artis kelahiran Jerman, Friedrich Kunath, menghadirkan pameran tunggal pertamanya di Seoul bersama Pace Gallery.

Pameran bertajuk "The Nearest Faraway Place" ini berlangsung dari 1 September hingga 24 Oktober di Pace Gallery, Itaewon.

Pameran ini menampilkan lukisan dan gambar baru yang mengeksplorasi tema kerinduan, melankolia, dan pencarian akan rumah.

Ini merupakan pameran keduanya bersama Pace sejak bergabung pada 2025, namun yang pertama di Seoul.

Judul pameran diambil dari lagu instrumental The Beach Boys. Kunath menyebut harmoni vokal grup tersebut sebagai model untuk menyeimbangkan keindahan dengan arus emosi yang lebih gelap.

Judul itu juga merangkum kontradiksi dalam praktiknya: merasa dekat namun tetap tak terjangkau. "Saya pikir ini adalah kondisi batin," kata Kunath dalam wawancara dengan The Korea Times, Sabtu.

"Saat ini, saya merasa sangat jauh dari diri saya sendiri.

Tetapi pada saat yang sama, ketika saya berjalan di galeri dan melihat karya saya, saya merasa agak damai dan seperti di rumah karena mereka ada di sana seperti teman lama," ujarnya.

Kegelisahan yang Menjadi Karya

Lanskap dalam pameran ini menampilkan jalan yang menghilang, cakrawala yang tersembunyi di balik gunung, matahari terbenam yang bersinar, dan sosok-sosok yang sendirian.

Pace menyebut karya-karya ini mengeksplorasi jarak dan relokasi.

Karya-karya tersebut merekam ketegangan antara tempat seseorang berada dan tempat yang mereka bayangkan seharusnya. Kegelisahan ini bukan sekadar motif artistik bagi Kunath.

Ia mengaku sering pindah saat kecil dan berhenti menghitung setelah sekitar 78 kali pindah.

Kebiasaan berpindah menjadi begitu mendarah daging sehingga ia kadang merasa terdorong untuk pindah setelah menetap hanya beberapa tahun.

"Setiap setengah tahun, kami pindah ke suatu tempat," katanya. "Anda tumbuh dengan kegelisahan ini, dan itu menjadi hampir seperti hal yang normal."

Kunath kini memiliki studio di Berlin, menghabiskan waktu di rumah di pegunungan Austria, dan bekerja di Eropa serta Los Angeles.

Berlin menawarkan teman dan kehidupan sosial, sementara Austria memberinya kesunyian dan alam.

Pertanyaan tentang rumah tetap belum terjawab. "Ini benar-benar bermuara pada musik, film, sastra, dan teman-teman," katanya.

"Di mana pun saya berada, saya mencoba memasak untuk orang-orang, lalu kita bisa berdiskusi tentang kehidupan."

"Kami punya musik, kita bisa bicara tentang film, hubungan. Pada saat-saat itu, saya benar-benar merasa seperti di rumah," tambahnya.

Musik sebagai Jalan Masuk

Musik mungkin menjadi jalan paling jelas menuju dunia seni Kunath. "Musik itu seperti udara yang saya hirup," ujarnya.

Ia mendengarkan musik sepanjang waktu dan menganggap melodi sebagai soundtrack yang mengubah tekstur kehidupan sehari-hari.

"Musik memiliki undangan tanpa batas dan sangat demokratis yang bisa diikuti semua orang," katanya. "Keindahan lagu tiga menit adalah ia bisa berbicara kepada semua orang secara universal."

Lanskap yang diterangi matahari, langit sentimental, dan keindahan yang tampak akrab dalam karyanya dimaksudkan untuk menarik pemirsa sebelum menghadapkan mereka pada kesepian, kerapuhan, atau kegelisahan eksistensial.

"Kuda Troya saya adalah matahari terbenam, lanskap yang indah," katanya. "Saya ingin menarik Anda masuk, lalu kita bisa membahas sesuatu yang sangat menyedihkan dan eksistensial."

Bagi Kunath, keindahan bukanlah pelarian dekoratif dari kegelapan, melainkan pintu masuk yang diperlukan.

Ia membandingkan strategi ini dengan harmoni The Beach Boys yang menyembunyikan kesedihan dan trauma di balik permukaan yang cerah.

"Mari kita temukan satu sama lain melalui keindahan," katanya. "Bahkan jika itu janji palsu, saya tetap merasa itu adalah cara saya untuk menghadapinya."

Pameran "The Nearest Faraway Place" berlangsung hingga 24 Oktober di Pace Gallery, Itaewon.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru