Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan menjadi 'seperti perairan yang tidak berharga' dalam dua tahun ke depan.
Hal ini disampaikannya dalam diskusi di sela-sela pertemuan para menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, Selasa (1/9/2026).
>>> Gedung Putih: Kebijakan AS terhadap Korea Utara Tidak Berubah, Trump Terbuka Dialog
Bessent menuturkan bahwa minyak akan diangkut melalui pipa-pipa darat, sehingga memotong jalur laut yang selama ini menjadi titik rawan.
'Kami bisa melihat Iran mencoba menggunakan Selat Hormuz sebagai titik tersedak. Itu bukan titik tersedak bagi AS, tapi bagi banyak negara lain,' ujarnya.
Ia menambahkan, 'Itu akan dilewati dalam dua tahun. Dalam dua tahun, Selat Hormuz akan seperti perairan yang tidak berharga.
Minyak akan mengalir melalui pipa-pipa di daratan.'
Ketegangan di Selat Hormuz
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Iran disebut telah berupaya memblokir Selat Hormuz, jalur vital untuk pengiriman minyak, gas alam, pupuk, dan komoditas lainnya.
Gangguan pelayaran di selat tersebut telah menjaga harga energi tetap tinggi. Hal ini menambah tekanan pada pemerintahan AS menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.
>>> Lupa Akses WhatsApp? Begini Cara Mengembalikan Akun yang Dibajak
Negara-negara Teluk dan negara-negara yang bergantung pada selat untuk impor energi berupaya mengurangi ketergantungan mereka pada jalur air tersebut.
Iran berusaha mempertahankan kendali atas selat sebagai sumber pengaruh dalam perang berbulan-bulan dengan AS.
Sementara itu, Komando Pusat AS mengumumkan pasukannya menyerang target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran.
Serangan ini buntut dari upaya IRGC menyerang kapal komersial di Selat Hormuz dan pasukan AS di Timur Tengah.
Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut serangan tersebut 'besar dan kuat' sebagai balasan atas upaya 'gagal' Iran menambahkan ranjau laut di selat.
Ia mengklaim selat itu saat ini tidak memiliki ranjau.
>>> Polisi Periksa Kemungkinan Korban Lain dalam Kasus Pelecehan Anak di Tangerang
Trump menulis, 'Jika bangsa Iran yang gagal ini membalas serangan yang sangat adil ini, mereka akan dipukul lagi dengan tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi, tapi itu bukan serangan terbesar dari semuanya, itu menunggu di sayap dan ketika itu selesai, akan sangat sedikit yang tersisa dari Republik Islam Iran.'