Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan Washington kemungkinan akan mengumumkan sanksi perbankan terhadap Iran pada pekan ini.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk 'mencekik ekonomi' kepemimpinan Iran setelah enam bulan konflik.
>>> Forbes Rilis Daftar Orang Terkaya Dunia September 2026: Musk Masih Juara
Pernyataan itu disampaikan Bessent dalam pertemuan para menteri keuangan G20 di Asheville, North Carolina, Selasa (1/9/2026).
Ia juga menyebut akan ada pengumuman sanksi tambahan pada pekan berikutnya.
Bessent menegaskan AS juga akan menargetkan perusahaan penyewaan pesawat dan entitas lain yang berbisnis dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
'Kami tidak punya toleransi. Kami akan mencekik ekonomi rezim ini,' ujarnya.
Respons Teheran
Teheran tetap menantang.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan jika musuh ingin mencegah ekspor minyak Iran dari Teluk Persia, maka tidak ada yang bisa mengekspor minyak.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebelumnya menyatakan akan membalas segera jika AS memenuhi komitmennya dalam nota kesepahaman Juni yang dimaksudkan untuk menghentikan konflik.
Namun, periode negosiasi 60 hari telah berlalu tanpa kesepakatan lebih lanjut.
>>> Bupati Tangerang Beri Motivasi ke 1.075 Penerima Beasiswa Gemilang
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengecam AS yang 'kecanduan membuat tuntutan berlebihan dan salah mengartikan negosiasi sebagai mendikte syarat'.
Ia memperingatkan Teheran akan menggunakan semua kemampuan, baik di medan perang maupun melalui jalur diplomatik.
Dampak pada Harga Minyak
Ketegangan yang meningkat kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan penghasil utama dunia. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2 persen pada Selasa.
Dua kapal tanker super yang membawa minyak Saudi dilaporkan terkena proyektil tak dikenal saat melintas keluar dari Selat Hormuz pada Senin malam.
Insiden ini menyoroti risiko konflik yang berkepanjangan.
Analis PVM, John Evans, mengatakan serangan rudal balasan antara AS dan Iran membenarkan kekhawatiran bahwa konflik ini akan berlarut-larut, meski bukan perang abadi.
Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, menyatakan Teheran memiliki cadangan devisa yang cukup.
Bank sentral siap menyuntikkan hingga 2 miliar dolar AS ke pasar valuta asing untuk menenangkan volatilitas.
>>> Harga Minyak Melonjak Setelah AS Serang Iran di Selat Hormuz
Namun, mata uang Iran telah jatuh ke rekor terendah pada Agustus, menembus ambang psikologis 2 juta rial per dolar AS, sementara inflasi tahunan mencapai 66 persen pada Juli.
