Kemarau panjang mulai menunjukkan dampaknya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sungai Juwana menjadi salah satu wilayah yang paling terlihat terdampak.
Air sungai menyusut drastis hingga dasar Bendung Karet terlihat. Jutaan ikan sapu-sapu ditemukan mati akibat kondisi tersebut.
Sungai Juwana selama ini memiliki peran penting bagi lingkungan dan aktivitas masyarakat. Penurunan debit air yang terus terjadi membuat kehidupan ikan di sungai ikut terganggu.
Dampak Kemarau pada Ekosistem Sungai
Kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar sebenarnya bukan hal baru di sejumlah perairan. Ikan ini dikenal kuat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Namun, ketika air sungai terus menyusut akibat kemarau ekstrem, kemampuan bertahan tersebut tetap memiliki batas. Air yang semakin dangkal membuat ruang hidup ikan berkurang.
Kualitas air juga dapat berubah ketika debit sungai turun secara signifikan. Matinya ikan sapu-sapu menjadi tanda nyata bagaimana kekeringan berdampak pada ekosistem perairan.
Kondisi Sungai Juwana digambarkan dengan air yang terus menyusut sampai dasar bendung terlihat. Ini menunjukkan tekanan yang dihadapi sungai akibat berkurangnya pasokan air.
Ancaman bagi Irigasi Pertanian
Persoalan tidak berhenti pada matinya ikan. Sungai Juwana juga berkaitan dengan kebutuhan air bagi masyarakat, terutama petani yang mengandalkan aliran sungai.
Ketika debit air turun terlalu rendah, pasokan untuk irigasi otomatis ikut terancam. Petani harus menghadapi kondisi yang lebih sulit karena kebutuhan tanaman terhadap air tetap berjalan.
Situasi ini membuat kekeringan di Pati perlu dilihat lebih luas. Sungai yang surut bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga berkaitan dengan ketahanan pertanian dan kebutuhan masyarakat.