Ia mengaku hadir khusus pada sesi pemberian penghargaan dan peluncuran video promosi wisata Bali. "Mereka sudah membuat video yang sangat baik untuk promosi Bali, menonjolkan keindahan alam dan pantainya. Saya menerima penghargaan tersebut atas nama tokoh budaya Bali," paparnya.
Lebih jauh, Arya menyoroti nilai-nilai kearifan lokal yang dianut masyarakatnya. Ia menekankan bahwa dalam tradisi Bali, menerima penghargaan dari kalangan mana pun adalah bentuk penghormatan yang wajar dan merupakan bagian dari etika pergaulan yang santun. "Kalau di Bali, menerima penghargaan dari kalangan mana pun, namanya orang memberi penghargaan, ya kita hargai dong. Seperti itu," tambahnya. Baginya, menolak penghargaan secara tiba-tiba justru bisa dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan dalam konteks diplomasi budaya.
Menepis Kaitan dengan Isu LGBT
Arya juga menyatakan ketidaktahuannya bahwa kehadirannya akan langsung dikait-kaitkan dengan agenda atau isu LGBT. Ia memilih untuk tidak mencampuri urusan latar belakang pihak yang memberi penghargaan, karena hal tersebut dianggap melampaui batas etika.
"Kita tidak ikut komentar tentang latar belakang siapa orang-orang yang memberikan penghargaan. Ada namanya etika. Kami di sini mewakili masyarakat Bali yang bekerja di sektor pariwisata," ujarnya. Ia juga mengakui secara objektif bahwa Thailand memang dikenal secara global sebagai destinasi wisata yang inklusif dan ramah terhadap berbagai ekspresi gender, yang menjadi bagian dari daya tarik pariwisata negara tersebut.
Sorotan pada Pengawal Pribadi Berseragam TNI
Di luar isu keikutsertaannya dalam acara tersebut, sorotan publik juga tertuju pada detail lain yang tak kalah mencolok: kehadiran seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengenakan seragam dinas lengkap mendampingi Arya selama di Thailand. Foto ini kian memicu spekulasi liar di tengah masyarakat, memunculkan pertanyaan mengenai penggunaan fasilitas negara atau otoritas seragam untuk kepentingan yang dianggap kontroversial.