unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Teks Khutbah Jumat 11 September 2026 NU: Ketika Alam Menjerit, Saatnya Meneladani Rasulullah
News

Teks Khutbah Jumat 11 September 2026 NU: Ketika Alam Menjerit, Saatnya Meneladani Rasulullah

Teks Khutbah Jumat 11 September 2026 NU: Ketika Alam Menjerit, Saatnya Meneladani Rasulullah
Wakaf Masjid Istiqlal di Saham Menuai Sorotan Publik
A A Ukuran Teks16px

Memasuki pertengahan September 2026, isu lingkungan hidup kembali menjadi sorotan tajam. Musim kemarau yang panjang tak jarang membawa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang tidak hanya menghanguskan ekosistem, tetapi juga mengirimkan kabut asap tebal yang mengganggu kesehatan jutaan warga.

Di tengah keprihatinan nasional tersebut, Nahdlatul Ulama (NU) hadir dengan sebuah refleksi spiritual yang mendalam. Melalui kanal resminya, NU menyediakan referensi teks khutbah Jumat untuk tanggal 11 September 2026 dengan tema yang sangat relevan dan menohok kesadaran: "Ketika Manusia Merusak Alam, Saatnya Meneladani Rasulullah SAW."

Teks khutbah ini menjadi salah satu kata kunci yang paling banyak dicari oleh para takmir masjid dan calon khatib menjelang pelaksanaan ibadah salat Jumat. Mengapa tema ini begitu krusial untuk diangkat minggu ini? Mari kita bedah secara jurnalistik dan mendalam.


Mengapa Tema Lingkungan Hidup Sangat Relevan Hari Ini?

Khutbah Jumat bukan sekadar rutinitas ritual atau ceramah moral biasa. Ia adalah mimbar edukasi umat yang harus responsif terhadap zaman. Dalam kaidah fikih, khutbah adalah rukun yang menentukan sah atau tidaknya salat Jumat. Jika syarat dan rukunnya tidak terpenuhi, maka jamaah wajib menggantinya dengan salat Dzuhur.

Namun, lebih dari sekadar gugur kewajiban, khutbah adalah cermin dari realitas umat. Ketika hutan di Kalimantan dan Sumatera kembali terbakar, ketika sungai-sungai di kota besar berubah warna akibat limbah, dan ketika udara bersih menjadi barang mewah, maka mimbar Jumat harus bersuara.

Islam, melalui pandangan Nahdlatul Ulama, menempatkan hifzhal bi'ah (menjaga lingkungan) sebagai bagian tak terpisahkan dari iman. Merusak alam bukan sekadar kejahatan ekologis, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Sang Pencipta.


Cermin Kerusakan: Peringatan Keras dari Surat Ar-Rum

Dalam khutbah pertamanya, khatib diingatkan untuk membuka mata hati jamaah terhadap realitas yang pahit. Asap pekat, sungai yang mati, dan tanah yang gersang bukanlah takdir buta yang harus pasrah diterima. Itu adalah "surat cinta" peringatan dari Allah SWT tentang konsekuensi ulah tangan manusia.

Allah SWT berfirman dengan sangat tegas dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 41:

Ẓahara-l-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba'ḍallażī 'amilụ la'allahum yarji'ụn.

Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar."

Ayat ini adalah fondasi teologi lingkungan dalam Islam. Khatib mengajak jamaah untuk tidak merasa terasing dari alam. Kita adalah bagian dari alam. Ketika kita meracuni sungai, pada akhirnya racun itu akan masuk ke dalam tubuh kita melalui air minum dan ikan yang kita konsumsi.

Untuk memperkuat argumen ini, teks khutbah ini secara brilian mengutip tafsir Marah Labid karya ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi Banten. Syekh Nawawi menjelaskan bahwa kerusakan (fasad) di darat dan laut meliputi paceklik, banjir, kebakaran, hingga matinya hewan-hewan ternak dan bi laut. Ini menunjukkan bahwa para ulama terdahulu telah lama memahami konsep ekologi dan dampak domino dari dosa manusia terhadap alam.


Menanam Harapan di Ujung Kiamat: Filosofi Rasulullah

Salah satu poin paling emosional dan inspiratif dalam teks khutbah ini adalah ketika menyoroti kecintaan Rasulullah SAW terhadap alam. Nabi Muhammad SAW tidak hanya berbicara tentang akhirat yang abadi, tetapi juga tentang bumi yang fana.

Rasulullah SAW bersabda:

In qāmatis-sā'atu wa bi yadi aḥadikum fasilah, fa inistaṭā'a an lā yaqụma ḥatta yagrisahā falyaf'al.

Artinya: "Jika hari kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat sebuah tunas tanaman, apabila ia mampu untuk menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad).

Bayangkan filosofi luar biasa ini! Kiamat adalah hari kehancuran total, di mana tidak ada lagi masa depan duniawi. Namun, Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk menanam pohon. Ini adalah ajaran tentang sustainability (keberlanjutan) dan harapan. Menanam pohon adalah tentang mewariskan kehidupan, tentang memberi manfaat pada makhluk lain, dan tentang optimisme yang tak boleh padam meski dunia sedang runtuh.


Konteks Nusantara: Menjaga Lahan Gambut

Sebagai artikel yang kontekstual, teks khutbah dari NU ini tidak lupa membumikan ajaran agama dengan realitas geografis Indonesia. Isu lahan gambut diangkat sebagai studi kasus. Indonesia memiliki ekosistem gambut yang luas, yang berfungsi sebagai penyerap karbon terbesar di dunia. Namun, karakternya yang unik menuntut kearifan lokal.

Khatib diingatkan untuk menyampaikan lima langkah praktis pengelolaan lahan gambut kepada jamaah:

  1. Memahami Karakter Ekosistem: Lahan gambut bukan tanah biasa, ia adalah spons raksasa yang menyimpan air.
  2. Menata Sesuai Tipologi: Memaksakan tanaman yang tidak cocok hanya akan merusak keseimbangan.
  3. Tata Kelola Air (Water Management): Menjaga kelembapan agar tidak kering (yang memicu api) atau terlalu basah.
  4. Stop Bakar Hutan: Membuka lahan dengan membakar adalah dosa ganda; merusak ekosistem dan menyiksa warga dengan asap.
  5. Pertanian Terpadu: Berpikir jangka panjang, bukan sekadar eksploitasi instan.

Kolaborasi Lintas Sektor: Panggilan Bertindak

Menutup khutbah, pesan yang disampaikan sangat inklusif dan komprehensif. Menjaga alam adalah tanggung jawab kolektif (fardhu kifayah dalam konteks kebijakan). Pemerintah harus tegas menindak perusak lingkungan tanpa pandang bulu. Korporasi harus beretika. Petani harus bijak. Dan masyarakat umum harus memulai dari halaman rumah sendiri.

Teks khutbah ini juga menyisipkan doa yang menyentuh hati bagi para korban bencana alam dan karhutla, mengingatkan umat Islam bahwa empati sosial dan lingkungan adalah satu kesatuan iman.


Panduan Lengkap Teks Khutbah Jumat 11 September 2026

Berikut adalah naskah utuh khutbah yang telah disunting agar mudah dibaca dan disampaikan oleh para khatib di seluruh Nusantara.

KHUTBAH PERTAMA

Mukadimah الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهِمَا آيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ, وَسَخَّرَ لَنَا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْ نِعَمٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ لِنَكُونَ مِنَ الشَّاكِرِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Isi Khutbah Hadirin, Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Hari ini, marilah kita sejenak melihat lingkungan di sekitar kita. Kita menyaksikan hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, laut yang dipenuhi sampah, dan udara yang tidak selalu lagi bersih untuk kita hirup. Beberapa waktu lalu, kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Asap pekat mengganggu jarak pandang, udara menjadi tidak sehat, dan aktivitas masyarakat lumpuh.

Kita tentu prihatin. Tetapi, sebagai orang beriman, keprihatinan saja tidak cukup. Kita perlu bertanya: Mengapa semua ini terjadi? Apa yang telah kita lakukan terhadap alam?

Al-Qur'an telah memberikan peringatan yang sangat jelas. Allah Swt. berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia...”

Manusia tidak boleh memandang dirinya terpisah dari alam. Ketika alam rusak, manusialah yang menerima akibatnya. Penggundulan hutan memperbesar risiko banjir. Pencemaran air mengancam nyawa. Pembakaran lahan merusak paru-paru dunia.

Syekh Nawawi Banten dalam Marah Labid menafsirkan ayat ini dengan sangat mendalam: أَيْ تَبَيَّنَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْجَدَبِ وَكَثْرَةِ الْحَرَقِ، وَالْغَرَقِ، وَمَوْتِ دَوَابِّ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، وَقِلَّةِ اللُّؤْلُؤِ بِسَبَبِ كَسْبِ النَّاسِ الْمَعَاصِيَ “Telah tampak kerusakan di darat dan laut, seperti paceklik, banyaknya kebakaran dan banjir, kematian hewan-hewan darat dan laut... yang disebabkan oleh perbuatan (dosa) manusia.”

Jamaah yang dirahmati Allah, Islam menghadirkan teladan. Rasulullah Saw. mengajarkan kita untuk memperlakukan alam dengan penuh cinta. Beliau bersabda: إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ “Jika hari kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat sebuah tunas tanaman, apabila ia mampu untuk menanamnya sebelum kiamat terjadi, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad).

Renungkanlah! Di ujung dunia sekalipun, kita diperintahkan untuk menanam kehidupan. Pohon yang kita tanam hari ini, bisa jadi menjadi naungan dan makanan bagi generasi yang belum lahir.

Di Indonesia, menjaga alam berarti memahami karakter lahan kita, seperti lahan gambut. Kelola lahan dengan pengetahuan, jaga tata airnya, dan hentikan kebiasaan membakar hutan. Pertanian harus terpadu, bukan eksploitatif.

Menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah harus menindak perusak lingkungan, pengusaha harus beretika, dan kita semua harus merawat bumi. Mari kita doakan saudara kita yang menjadi korban bencana alam dan kabut asap. Semoga Allah memberi ketabahan dan jalan keluar.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ


KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ... (dan seterusnya hingga doa penutup).

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ... اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ... وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.


🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru