Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan masih memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas.
Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) memang memberi sedikit angin segar, tetapi ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir.
Data Sistem Monitoring Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut mencatat 818 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional pada Jumat (4/9/2026) malam.
Data tersebut bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Kalteng dan Sumsel Catat Hotspot Terbanyak
Dari enam provinsi yang menjadi fokus pengendalian, Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat hotspot terbanyak, yakni 252 titik.
Berikutnya ada Sumatera Selatan (Sumsel) dengan 165 titik dan Kalbar sebanyak 124 titik.
Sementara itu, Jambi tercatat memiliki 14 hotspot, Riau 13 titik, dan Kalimantan Selatan (Kalsel) sebanyak empat titik.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan kondisi tersebut membuat operasi saat ini diprioritaskan di tiga provinsi dengan jumlah hotspot tinggi.
“Operasi di lapangan meliputi patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, hingga pemantauan untuk mencegah api kembali menyala,” ujar Ristianto dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hotspot tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit.
“Satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot,” katanya.
Karena itu, setiap titik yang terpantau tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan atau groundcheck untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
53 Armada Udara Dikerahkan untuk Pengendalian
Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan sejumlah pihak terkait.