Khutbah Jumat menjadi momen refleksi mingguan yang krusial bagi umat Islam untuk mengevaluasi diri di tengah arus deras perubahan zaman. Pada Jumat, 11 September 2026, tema yang diangkat sangat relevan dengan dinamika kehidupan kontemporer: "Menghindari Jahiliyah Bergaya Kekinian" atau yang kerap disebut sebagai neo-jahilism.
Di era digital yang serba cepat ini, konsep jahiliyah tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai penyembahan berhala dari batu atau kayu. Namun, ia telah bermetamorfosis menjadi bentuk-bentuk baru yang lebih halus, namun sama berbahayanya. Mulai dari keraguan epistemologis terhadap janji Tuhan, degradasi moral dalam budaya populer, hingga sistem hukum yang mengabaikan keadilan ilahiah.
Bagi Anda yang tidak sempat menghadiri salat Jumat di masjid atau musala, berikut adalah intisari mendalam dan teks lengkap Khutbah Jumat 11 September 2026 yang dilansir dari rujukan otoritatif, disajikan dengan gaya bahasa yang lugas, menyejukkan, dan mudah dipahami.
Apa Itu "Jahiliyah Gaya Kekinian"?
Secara bahasa, jahiliyah bermakna kebodohan. Namun dalam terminologi Al-Qur'an, ia merujuk pada kondisi masyarakat yang hidup tanpa pedoman wahyu, sehingga terjebak dalam hawa nafsu, ketidaktahuan, dan penyimpangan nilai.
Ulama kontemporer mengingatkan bahwa kita sedang hidup di masa yang oleh sebagian pemikir disebut sebagai Jahiliyatul Qarni ‘Isyrin (Jahiliyah Abad 20/21). Ciri utamanya bukan lagi perbudakan fisik, melainkan perbudakan pikiran oleh algoritma, konsumerisme, serta normalisasi ketidakadilan yang dibungkus dengan narasi "kemajuan" dan "modernitas".
Khutbah kali ini menguraikan tiga konteks utama jahiliyah modern yang wajib diwaspadai oleh setiap muslim, lengkap dengan dalil naqli dan relevansinya terhadap kehidupan sehari-hari.
Teks Lengkap Khutbah Jumat Pertama
Mukadimah
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ.
قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ:
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢ ﴾ (آل عمران: 102)
﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ١ ﴾ (النساء: 1)
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ٧٠ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا ٧١ ﴾ (الأحزاب: 70-71)
وَقَالَ أَيْضاً:
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ٢٩ ﴾ (النساء: 29)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ:
Isi Khutbah: Tiga Wajah Jahiliyah Modern
Jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Mari kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik di tempat sepi maupun di keramaian.
Hari ini, mari kita bersama-sama merenungi fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia modern. Meskipun masyarakat masa kini tidak lagi secara harfiah menyembah patung atau benda mati, kehidupan mereka seringkali terjerumus ke dalam arah yang dapat dikategorikan sebagai jahiliyah baru (neo-jahilism). Al-Qur'an telah mencerminkan konsep jahiliyah dalam beberapa konteks yang sangat relevan untuk kita bedah saat ini.
1. Kerusakan Epistemologi: Keraguan terhadap Janji Allah
Konteks pertama tergambar dalam Surah Ali Imran ayat 154:
﴿ ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ﴾
Artinya: "Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah."
Ayat ini menggambarkan kondisi psikologis dan spiritual di mana sebagian manusia, ketika dihadapkan pada ujian atau kesedihan, malah merasa cemas berlebihan dan ragu-ragu terhadap janji serta keberadaan Allah. Mereka menyangka yang tidak-tidak tentang Tuhan, persis seperti pola pikir jahiliah.
Dalam tafsirnya, kondisi ini mencerminkan kerusakan epistemologi (kerusakan pada cara berpikir dan memahami kebenaran). Kaum munafik atau mereka yang lemah imannya tidak mantap dalam keyakinan, meskipun secara lahiriah mereka mengaku Islam. Di era modern, ini terlihat dari mudahnya seseorang putus asa, menyalahkan takdir, hingga mencari pembenaran spiritual di luar ajaran agama yang murni ketika menghadapi krisis ekonomi atau sosial.
2. Degradasi Moral: Bahaya 'Tabaruj Jahiliyah'
Konteks kedua mencakup perilaku dan tingkah laku yang mencerminkan ketidakpahaman terhadap nilai-nilai ketuhanan. Al-Qur'an menyebutnya sebagai tabaruj al-jahiliyah dalam Surah Al-Ahzab ayat 33:
﴿ وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا ﴾
Artinya: "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya..."
Pada masa Arab Jahiliyah, masyarakat membangun sistem yang rusak, menciptakan ketidaksetaraan, eksploitasi, dan ketidakadilan. Ironisnya, fenomena ini hadir kembali dalam struktur kemasyarakatan kita saat ini.
Dalam realitas kehidupan modern, banyak masyarakat yang menjauh dari nilai-nilai ilahiah demi mengejar validasi semu, tren media sosial, dan gaya hidup hedonis. Ini adalah bentuk tabaruj jahiliyah kontemporer. Ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan kecenderungan mengabaikan prinsip etika agama semakin merajalela. Sebagai umat Islam, kita wajib mengintrospeksi diri agar tidak terperangkap dalam budaya yang merusak ini. Mari kita bangun masyarakat yang adil berdasarkan nilai-nilai ilahiah yang menghormati hak-hak setiap individu.
3. Sistem Hukum yang Melenceng dari Keadilan Ilahiah
Konteks ketiga berkaitan dengan sistem hukum dan tata kelola yang bertentangan dengan nilai keadilan. Al-Qur'an menegurnya dengan tegas dalam Surah Al-Maidah ayat 50:
﴿ اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ﴾
Artinya: "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"
Saat ini, kita sering menyaksikan bagaimana hukum terkadang diterapkan secara tidak adil, terutama yang berkaitan dengan aspek kepemilikan harta, kekuasaan, dan jabatan. Kondisi ini menciptakan ketimpangan di mana hak-hak individu yang lemah dapat diinjak-injak oleh kekuatan material dan politik.
Korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang adalah manifestasi nyata dari "hukum jahiliyah" modern yang mengguncang fondasi keadilan. Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk menghadapi realitas ini dengan bijak dan tegas. Kita harus berusaha menjadikan nilai-nilai keadilan, transparansi, dan kebenaran sebagai landasan utama dalam setiap aspek kehidupan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai warga negara.
Semoga Allah memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita untuk menjalankan tugas sebagai pembela keadilan di tengah masyarakat yang penuh tantangan ini. Amin ya Rabbal 'alamin.
Penutup Khutbah Pertama
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Teks Lengkap Khutbah Jumat Kedua
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ.
اللّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:
فَأُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
Jamaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam refleksi khutbah hari ini, kita telah menilik tiga ciri jahiliyah gaya baru yang mengintai dalam kehidupan modern.
Pertama, kita diingatkan untuk menjauhkan diri dari kerusakan epistemologi, yaitu keraguan terhadap janji dan keberadaan Allah di tengah ujian hidup.
Kedua, kita diminta untuk menghindari tabaruj jahiliyah, yakni perilaku dan budaya yang menjauhkan kita dari nilai-nilai ilahiah demi validasi duniawi.
Ketiga, kita diingatkan tentang bahaya sistem hukum dan tata kelola yang bertentangan dengan nilai keadilan, seperti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Sebagai umat Islam, kita diberikan tugas mulia untuk menjaga diri dari jeratan jahiliyah gaya baru ini. Kita perlu memperkuat iman dan keyakinan, menjalankan tuntunan-Nya dalam segala aspek kehidupan, mulai dari cara kita berinteraksi di media sosial, mengelola keuangan, hingga menyikapi isu-isu keadilan di lingkungan sekitar.
Mari kita jauhi perilaku dan budaya yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Teruslah berjuang untuk menciptakan masyarakat yang adil, bermoral, dan penuh kasih sayang. Dalam menanggapi tantangan ini, mari kita bersatu. Kita perlu membangun kesadaran dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang ajaran Islam, agar masyarakat modern dapat menggali kearifan dan kebenaran yang terkandung dalam agama kita, bukan sekadar menjadikannya simbol tanpa substansi.
Semoga Allah memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita untuk melawan segala bentuk jahiliyah, baik yang lama maupun yang baru. Marilah kita berdoa agar kita senantiasa dijauhkan dari fitnah-fitnah dunia yang dapat merusak iman dan nilai-nilai luhur kita.
Doa Penutup
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Catatan Redaksi untuk Pembaca
Artikel ini disusun untuk memudahkan umat Islam dalam memahami esensi khutbah Jumat, 11 September 2026, dengan pendekatan yang lebih analitis namun tetap menjaga kesakralan teks agama. Dengan memahami bentuk-bentuk jahiliyah modern, diharapkan setiap individu dapat menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan ketakwaan ke dalam lingkungan sosialnya.
Simpan atau bagikan artikel ini kepada keluarga dan kerabat Anda sebagai bentuk dakwah digital yang positif dan bermanfaat.