Dunia pendidikan di Kabupaten Nganjuk kembali diselimuti duka. Sebuah insiden tak terduga mengguncang Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Prambon, di mana seorang guru geografis, Suaidi, menghembuskan napas terakhirnya setelah terlibat perselisihan verbal dengan salah satu siswanya.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan tentang betapa rentannya kondisi psikologis dan fisik seorang pendidik di tengah tekanan lingkungan kerja, sekaligus menyoroti pentingnya kesadaran akan penyakit bawaan yang bisa berakibat fatal.
Meski pihak keluarga telah menyatakan keikhlasan dan menolak menempuh jalur hukum, Kepolisian Resor (Polres) Nganjuk tetap mengambil langkah preventif dengan menurunkan tim untuk mengusut tuntas kronologi kejadian. Berikut adalah ulasan lengkap dan kronologi peristiwa yang berujung pada tragedi tersebut.
Bermula dari Ketukan Pintu Toilet
Peristiwa nahas ini bermula pada Selasa (1/9/2026), di saat jam pembelajaran sedang berlangsung. Kala itu, almarhum Suaidi sedang berada di dalam toilet siswa untuk keperluan pribadi.
Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar suara gedoran pintu toilet yang dilakukan berkali-kali oleh seorang siswa kelas XI yang tidak sabar ingin menggunakan fasilitas tersebut. Merasa privasinya terganggu dan terpancing emosi, Suaidi keluar dari toilet dan langsung menegur siswa tersebut.
Humas MAN 3 Prambon Nganjuk, Muhammad Ikhwanus Shofa, menjelaskan bahwa teguran tersebut berujung pada adu mulut. Niat hati ingin memberikan edukasi dan disiplin, almarhum sempat refleks hendak memberikan peringatan fisik berupa jewitan. Namun, tindakan tersebut dihalau oleh sang siswa.
"Almarhum keluar dan menegur siswa tersebut hingga terjadi adu mulut. Beliau sempat refleks hendak memberikan peringatan fisik (menjewar), tetapi dihalau oleh siswa, sehingga tidak ada kontak fisik langsung maupun perkelahian," terang Ikhwanus saat memberikan keterangan pers di lobi MAN 3 Prambon, didampingi Kepala Tata Usaha (KTU).
