Sekolah sejatinya menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman bagi para siswa untuk menimba ilmu. Namun, nuansa mencekam dan penuh amarah justru menyelimuti SMAN 1 Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada awal pekan ini.
Ratusan siswa yang sebagian besar masih berstatus di bawah umur, turun ke jalan menggelar aksi protes besar-besaran. Mereka menuntut keadilan dan rasa aman setelah nama salah satu guru senior di sekolah mereka terseret dalam skandal dugaan kekerasan seksual yang melibatkan belasan korban.
Dilansir dari berbagai sumber terpercaya pada Rabu (9/9/2026), sosok yang menjadi pusat kemarahan para siswa ini berinisial AT. Ironisnya, AT bukanlah guru biasa, melainkan pejabat struktural di sekolah tersebut, yakni Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan. Jabatan yang seharusnya mengayomi, justru diduga kuat menjadi topeng bagi aksi predatorinya.
Detik-Detik Aksi Protes dan Kepanikan Massa
Suasana kampus SMAN 1 Pamanukan mendidih pada Senin (7/9/2026). Ratusan siswa yang geram mengepung area sekolah. Mereka membawa spanduk dan menyuarakan orasi menuntut kejelasan kasus yang menimpa rekan-rekan mereka.
Situasi sempat memanas dan berujung ricuh ketika AT, sang terduga pelaku, ketahuan mencoba kabur secara diam-diam dari area sekolah melalui jalur belakang. Melihat sosok yang diduga menyakiti banyak siswi ini mencoba melarikan diri, emosi para siswa meledak. Mereka berupaya mengejar AT, menciptakan kepanikan di lingkungan sekolah.
Kericuhan baru berhasil diredam ketika aparat kepolisian dari Polsek Pamanukan tiba di lokasi. Dengan sigap, petugas mengamankan AT dan langsung menggiringnya ke kantor polisi. Tindakan preventif ini diambil bukan tanpa alasan; polisi harus melindungi sang terduga dari amuk massa yang saat itu sudah tidak terkendali demi menjaga kondusivitas wilayah.