unique visitors counter
⌂ Beranda News Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan Uni Emirat Arab, Beri Waktu 48 Jam
News

Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan Uni Emirat Arab, Beri Waktu 48 Jam

Ilustrasi bendera Aljazair dan Uni Emirat Arab
Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan Uni Emirat Arab, Beri Waktu 48 Jam
A A Ukuran Teks16px

Aljazair mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis, mengakhiri bertahun-tahun ketegangan antara kedua negara.

Keputusan itu disampaikan melalui televisi negara Aljazair, yang menyebut langkah tersebut diambil setelah semua upaya untuk menjaga hubungan bilateral tidak lagi membuahkan hasil.

Kementerian Luar Negeri Aljazair menuduh UEA melakukan tindakan provokatif dan bermusuhan, tanpa merinci bentuk tindakan yang dimaksud.

Aljazair juga menyatakan telah berulang kali memperingatkan Abu Dhabi agar menghentikan tindakan yang dianggap merugikan.

Menurut pernyataan kementerian, UEA tetap melanjutkan tindakannya hingga mencapai titik yang tidak dapat diterima atau ditoleransi lagi.

Pihak berwenang UEA belum memberikan reaksi langsung atas pengumuman tersebut.

Latar Ketegangan dan Peringatan Presiden

Presiden Aljazair Abdelmajid Tebboune dalam berbagai pidato sering menyebut UEA sebagai negara kecil yang berupaya mendestabilisasi sejumlah negara di kawasan.

Ia merujuk pada situasi di Libya, Mali, dan Sudan sebagai contoh dampak yang ditimbulkan.

Dalam wawancara televisi pada Juli, Tebboune mengatakan bahwa di mana pun UEA menjejakkan kaki, darah mengalir.

Ia menambahkan bahwa UEA memiliki pengaruh yang sangat negatif dan berharap negara itu menjauh agar darah tidak mengalir di Aljazair.

Tebboune saat itu menyatakan bahwa pemutusan hubungan diplomatik seharusnya sudah terjadi jauh sebelumnya jika Aljazair tidak berusaha menghindari perpecahan yang lebih dalam di dunia Arab.

Pada Kamis, Aljazair memberi duta besar UEA waktu 48 jam untuk mematuhi keputusan tersebut.

Ketegangan kedua negara juga dipicu oleh sejumlah perkembangan dalam beberapa tahun terakhir.

Tahun lalu, televisi negara Aljazair mengecam apa yang disebut sebagai kampanye media bermusuhan setelah broadcaster Sky News Arabia yang berbasis di UEA menayangkan wawancara dengan sejarawan Mohamed Amine Belghit.

Belghit membuat pernyataan kontroversial yang mempertanyakan keberadaan budaya Amazigh asli Aljazair.

Ia sempat dipenjara di Aljazair namun kemudian mendapat pengampunan dari Tebboune.

Perbedaan kebijakan diplomatik, termasuk normalisasi hubungan UEA dengan Israel pada 2020, turut memperlebar jurang pemisah antara Aljazair dan Abu Dhabi.

📰 Update Terbaru