unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Ketegangan Taiwan-China di Gwangju Biennale dan Masalah Manajemen Yayasan
Lifestyle

Ketegangan Taiwan-China di Gwangju Biennale dan Masalah Manajemen Yayasan

Suasana pameran seni di Gwangju Biennale yang menjadi sorotan insiden Taiwan Pavilion
Ketegangan Taiwan-China di Gwangju Biennale dan Masalah Manajemen Yayasan
A A Ukuran Teks16px
IN ARTICLE 1

Perselisihan Taiwan Pavilion menjadi gambaran nyata risiko yang timbul dari struktur tersebut.

Yayasan awalnya menyebut peserta sebagai National Taiwan Museum of Fine Arts sesuai registrasi.

Namun setelah keberatan dari seniman dan pejabat Taiwan, yayasan kemudian menyetujui penamaan Taiwan Pavilion.

Akibatnya, peserta dari China menarik diri sebagai bentuk protes.

Masalahnya bukan sekadar karena isu itu menyangkut pertanyaan politik sensitif tentang Taiwan.

Organisasi yang menjalankan platform budaya global itu tampak tidak siap mengenali, mengantisipasi, dan mengelola konsekuensi diplomatik dari penamaan serta representasi kesepakatan institusional.

Presiden Yayasan, Youn Bum-mo, meminta maaf dalam konferensi pers dan mengakui sistem paviliun perlu dirombak.

Ia menilai pembedaan antara paviliun nasional dan institusional "tampaknya tidak lagi banyak berarti."

Ia juga menyebut jumlah pendaftar menjadi sulit dikelola yayasan.

Pengakuan itu penting karena proyek paviliun yang diluncurkan pada 2018 sebagai inisiatif terpisah dari pameran utama berkembang cepat.

Jumlahnya meningkat dari sembilan pada 2023 menjadi 31 pada 2024.

Namun departemen yang bertanggung jawab atas administrasi paviliun kehilangan lima dari enam pekerja kontraknya tahun lalu.

Materi serah terima pun minim, menurut laporan berita lokal.

Staf kontrak baru ditugaskan secara tergesa-gesa pada Maret dan April.

Dua di antaranya kemudian menangani komunikasi dan pekerjaan administratif yang melibatkan 27 negara dan institusi tahun ini.

Kontroversi Lain dan Pertanyaan untuk Yayasan

Skandal paviliun Taiwan tampaknya bukan satu-satunya insiden yang menunjukkan kurangnya profesionalisme yayasan.

Isu itu muncul di tengah kontroversi lain yang merugikan terkait administrasi biennale yang buruk.

Pada 2023, yayasan menghapus Park Seo-bo Art Prize yang baru dibentuk hanya sebulan setelah upacara penghargaan pertamanya.

📰 Update Terbaru