Industri K-pop terus menghadirkan pertunjukan panggung yang semakin ambisius, baik di dalam maupun luar negeri.
Di balik kemegahan itu, sosok sutradara pertunjukan atau performance director kini mulai mencuri perhatian.
Mereka mengawasi hampir seluruh elemen visual pertunjukan, mulai dari koreografi, formasi penari, kostum, tata cahaya, hingga tata panggung.
Peran ini dulunya dianggap sekadar perpanjangan dari koreografi, tetapi kini diakui sebagai posisi kreatif tersendiri.
Perbedaan itu bahkan cukup terlihat untuk membentuk sebuah kompetisi televisi.
Mnet merilis acara "Street World Fighter: Directors' War" yang tayang perdana pada 18 Agustus.
Acara ini menampilkan 10 koreografer mapan yang bersaing bukan hanya soal menciptakan tarian terbaik, melainkan juga mengarahkan pertunjukan secara utuh.
Alih-alih bertanding dengan tim tari masing-masing, para kontestan berjuang agar nama mereka tercatat sebagai sutradara pertunjukan.
Perbedaan Koreografer dan Sutradara Pertunjukan
Koreografer bertugas menciptakan gerakan yang membentuk rutinitas tari.
Sementara itu, sutradara pertunjukan menentukan bagaimana gerakan dan penampilan artis tersebut akhirnya tampil di atas panggung.
Dalam misi pembuka "Directors' War", para kontestan terlebih dahulu mengolah ulang rutinitas khas satu sama lain untuk memperebutkan kredit koreografi.
Koreografi pemenang kemudian dipentaskan bersama para penari dalam kompetisi kedua untuk memperebutkan kredit sutradara.
Hasilnya menunjukkan bahwa keahlian di satu bidang tidak menjamin keberhasilan di bidang lain.
Simeez, sutradara pertunjukan girl group IVE sejak 2024, dan Back Koo-young, mantan sutradara pertunjukan SM Entertainment, masing-masing memenangi voting koreografi.
Namun keduanya akhirnya kalah dalam perebutan kredit sutradara.
Bada, pemimpin kru Bebe yang menjuarai "Street Woman Fighter 2", justru sebaliknya.
Ia meraih kredit sutradara setelah kalah dalam voting koreografi.
Program ini juga memperlihatkan bahwa sebagian besar pekerjaan sutradara pertunjukan terjadi di luar lantai dansa.
Back, misalnya, melatih para penari untuk rute di belakang panggung sambil berkoordinasi dengan stage manager dan kru tata cahaya.
Setelah terpilih untuk mengarahkan urutan judul acara, ia mendelegasikan koreografi penutup kepada Bada dan dua kontestan lain.
Pada akhirnya, versi Bada yang dipilih untuk pertunjukan final.
Jejak Global dan Struktur Industri
Konsep satu orang yang mengawasi presentasi panggung artis pop sebenarnya bukan hal baru di luar negeri.
Di dunia pop Barat, peran serupa lebih sering disebut creative director atau show director.
Jamie King, contohnya, mengarahkan dan mengkoreografi tur "Drowned World" Madonna pada 2001.
Ia kemudian mengarahkan beberapa tur dunia Madonna lainnya, serta tur untuk Britney Spears dan Rihanna.
Frank Gatson Jr., yang membantu membentuk citra Destiny's Child pada akhir 1990-an, lalu bekerja sebagai creative director Beyonce.
Ia terlibat dalam proyek seperti tur dunia "I Am..." 2009 dan pertunjukan paruh waktu Super Bowl 2013.
Di K-pop, peran ini semakin menonjol seiring skala dan jangkauan pertunjukan yang meluas.
Artis kini harus menerjemahkan identitas musik yang sama ke berbagai panggung televisi, video musik, konser arena dan stadion, serta penampilan festival global.
Hal ini menuntut lebih banyak dari mereka yang bertanggung jawab menyatukan elemen-elemen tersebut.
Beberapa kontestan "Directors' War" sudah bekerja di lanskap internasional yang semakin luas.
Jo Nain, yang pertama kali dikenal sebagai pemimpin kru TURNS yang menang di "Street Dance Girls Fighter", ikut mengarahkan koreografi untuk lagu "Golden".
Lagu itu berasal dari film animasi Netflix yang sukses secara global, "KPop Demon Hunters".
Kasper, mantan sutradara pertunjukan SM yang pernah bekerja dengan SHINee dan Taemin, memberikan contoh lebih langsung.
Pada April, ia mengawasi penampilan Taemin di Coachella, saat penyanyi itu menjadi solois pria K-pop pertama yang tampil di festival tersebut.
Penekanan pada pertunjukan juga mulai terlihat dalam struktur perusahaan hiburan.
Di Titan Content, agensi di balik girl group AtHeart, pendiri 1MILLION Dance Studio Lia Kim menjabat sebagai chief performance officer.
Posisi itu setara dengan CEO dan chief visual officer, menempatkan pertunjukan di tingkat eksekutif.
"Directors' War" sendiri menunjukkan arah profesi ini ke depan.
Pemenangnya akan mendapat kesempatan mengarahkan pertunjukan pembuka sebuah acara penghargaan global.
Peran yang dulu sering dilebur ke dalam koreografi kini dibawa ke panggung internasional dengan nama sutradara sendiri.