Program ini juga memperlihatkan bahwa sebagian besar pekerjaan sutradara pertunjukan terjadi di luar lantai dansa.
Back, misalnya, melatih para penari untuk rute di belakang panggung sambil berkoordinasi dengan stage manager dan kru tata cahaya.
Setelah terpilih untuk mengarahkan urutan judul acara, ia mendelegasikan koreografi penutup kepada Bada dan dua kontestan lain.
Pada akhirnya, versi Bada yang dipilih untuk pertunjukan final.
Jejak Global dan Struktur Industri
Konsep satu orang yang mengawasi presentasi panggung artis pop sebenarnya bukan hal baru di luar negeri.
Di dunia pop Barat, peran serupa lebih sering disebut creative director atau show director.
Jamie King, contohnya, mengarahkan dan mengkoreografi tur "Drowned World" Madonna pada 2001.
Ia kemudian mengarahkan beberapa tur dunia Madonna lainnya, serta tur untuk Britney Spears dan Rihanna.
Frank Gatson Jr., yang membantu membentuk citra Destiny's Child pada akhir 1990-an, lalu bekerja sebagai creative director Beyonce.
Ia terlibat dalam proyek seperti tur dunia "I Am..." 2009 dan pertunjukan paruh waktu Super Bowl 2013.
Di K-pop, peran ini semakin menonjol seiring skala dan jangkauan pertunjukan yang meluas.
Artis kini harus menerjemahkan identitas musik yang sama ke berbagai panggung televisi, video musik, konser arena dan stadion, serta penampilan festival global.
Hal ini menuntut lebih banyak dari mereka yang bertanggung jawab menyatukan elemen-elemen tersebut.
Beberapa kontestan "Directors' War" sudah bekerja di lanskap internasional yang semakin luas.
Jo Nain, yang pertama kali dikenal sebagai pemimpin kru TURNS yang menang di "Street Dance Girls Fighter", ikut mengarahkan koreografi untuk lagu "Golden".
