Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengonfirmasi bahwa mereka telah menempatkan senjata di luar angkasa.
Pengakuan ini disampaikan di tengah peringatan sebelumnya tentang kemungkinan negara seperti Rusia mempersenjatai wilayah yang selama ini disepakati hanya untuk tujuan damai.
Menteri Angkatan Udara Troy Meink mengatakan dalam konferensi Air and Space Cyber di Maryland pada Senin bahwa AS telah mengerahkan "senjata kendali luar angkasa di orbit yang mampu mempertahankan Joint Force terhadap tindakan musuh yang bermusuhan."
Meink tidak merinci jenis senjata tersebut, cara kerjanya, atau apakah senjata itu menargetkan objek lain di luar angkasa atau di Bumi.
Dua tahun lalu, AS memperingatkan bahwa Rusia sedang mengembangkan senjata anti-satelit berbasis luar angkasa baru, meskipun Gedung Putih menyatakan bahayanya tidak iminen saat itu.
Laporan tentang senjata anti-satelit itu mencerminkan kekhawatiran lama terhadap ancaman luar angkasa dari Rusia dan China, mengingat banyak infrastruktur AS bergantung pada komunikasi satelit.
AS juga sebelumnya pernah mendemonstrasikan kemampuannya menembak jatuh satelit dari Bumi.
Dalam pernyataannya, Meink juga menyebut Angkatan Udara sedang menambah lebih banyak sistem otonom dan memperkirakan layanan tersebut akan terlihat "sangat berbeda" pada 2032.
Sebagai contoh, ia membayangkan drone serang sekali pakai menggantikan artileri sebagai "pembunuh utama."
"Kami meningkatkan kesiapan terhadap ancaman yang ada," ujarnya.
Pengungkapan ini muncul saat pemerintahan Trump semakin fokus pada luar angkasa.
Pada 2019, di masa jabatan pertamanya, Trump menciptakan Space Force sebagai cabang militer terpisah.
Di masa jabatan keduanya, ia mengumumkan sistem pertahanan rudal "Golden Dome" yang mencakup rencana menempatkan senjata AS di luar angkasa.