Pasar keuangan global kembali bergejolak saat Federal Reserve menggelar rapat penetapan suku bunga. Harga minyak melonjak, imbal hasil obligasi AS naik, dan bursa saham tertekan.
Tekanan datang dari inflasi yang masih tinggi serta kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Kedua faktor itu mendominasi sentimen pasar.
Harga minyak mentah Brent kembali mendekati 110 dolar AS per barel. Sementara harga rata-rata diesel di Amerika Serikat mencetak rekor di bawah 6,27 dolar AS per galon.
Lonjakan energi itu menambah tekanan bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan kongres paruh waktu. Pasar juga mencermati dampak lanjutan terhadap inflasi dan suku bunga.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh 5,03 persen. Level itu terakhir terlihat pada 2007 sebelum krisis keuangan global.
Investor memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS. Federal Reserve memulai rapat penetapan suku bunga pada Selasa.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan 25 basis poin meningkat tajam. Data resmi pekan lalu menunjukkan inflasi tahunan AS masih jauh di atas target The Fed.
Krisis di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda.
Pemberontak Houthi Yaman mengambil kendali atas jalur pelayaran penting, sehingga minyak mentah melonjak bulan ini ke lebih dari 100 dolar AS per barel.
Lonjakan biaya energi meningkatkan tekanan pada bank sentral untuk menaikkan biaya pinjaman. Bank Sentral Eropa pekan lalu menaikkan suku bunga zona euro.
Bank of England diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada Kamis. Ekonomi Inggris tengah berjuang untuk tumbuh.
