Gates Foundation memperingatkan bahwa kecerdasan buatan atau AI berpotensi memperlebar ketimpangan sosial jika tidak segera diatasi.
Yayasan milik Bill Gates itu menjanjikan dana 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16 triliun untuk memperluas akses AI.
Peringatan tersebut disampaikan dalam laporan tahunan Goalkeepers yang melacak kemajuan tujuan pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pendiri Microsoft itu menyerukan agar perusahaan teknologi dan pemimpin dunia bertindak sekarang.
Tujuannya memastikan AI membantu mengatasi ketimpangan, bukan justru memperdalamnya.
Dana untuk Bahasa Lokal hingga Pertanian
Donasi yang diumumkan pada Selasa itu akan disalurkan selama dua tahun ke depan.
Dana tersebut dialokasikan untuk upaya berbasis AI, termasuk pelatihan model pada bahasa lokal.
Selain itu, dana dipakai untuk meningkatkan hasil kesehatan dan memperbarui alat pendidikan.
Sebagian dana juga untuk menginformasikan praktik petani kecil di berbagai belahan dunia.
Sekitar 100 juta dolar AS dialokasikan untuk membantu membangun kumpulan data dalam bahasa komunitas yang kurang terlayani.
Dana itu juga untuk mencerminkan konteks lokal mereka.
Sekitar 400 juta dolar AS dijanjikan untuk pendidikan, termasuk alat yang membantu guru menyusun ulang rencana pelajaran.
Sekitar 400 juta dolar AS lainnya untuk layanan kesehatan, seperti alat yang memeriksa ulang laporan klinisi.
Sekitar 100 juta dolar AS untuk pertanian, misalnya aplikasi yang memberi saran real-time soal cuaca dan hama.
Tekanan pada Bantuan AS dan Kemitraan Teknologi
CEO Gates Foundation Mark Suzman mengatakan pihaknya akan terus mendesak Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Desakan itu agar Amerika Serikat memimpin dalam bantuan luar negeri, meski ada pemotongan bantuan internasional.
