Perkembangan pesat kecerdasan buatan memicu perdebatan baru soal risikonya, sementara Amerika Serikat dan China terus berlomba mengembangkan model yang semakin kuat.
AS memang masih unggul dalam kemampuan model AI, riset, dan sitasi.
Namun China disebut terus mengejar sebagai kekuatan AI, meski pembatasan yang dipimpin AS menghalangi akses ke teknologi paling maju, termasuk chip canggih dan mesin pembuatnya.
Para ahli dan laporan terbaru, seperti dari Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence, menyebut China telah muncul sebagai penyeimbang AI bagi AS dan tahun ini tampak menghapus keunggulan AS.
"Kesenjangan antara model AS dan China sempit dan rapuh," kata Samm Sacks, senior fellow di Johns Hopkins School of Advanced International Studies' Institute for America, China, and the Future of Global Affairs.
AS dan China sama-sama menyuarakan kekhawatiran atas AI.
Perdebatan ini semakin penting menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington bulan ini untuk bertemu Presiden AS Donald Trump.
Para ahli menilai masa depan AI akan sangat bergantung pada apa yang dilakukan dan tidak dilakukan China dan AS.
Model AI China yang Bersaing Kuat
Startup asal Beijing, Moonshot AI, mencuri perhatian dengan peluncuran Kimi K3 yang mengejutkan Silicon Valley karena kemampuannya mendekati rival AS.
Model itu menempati peringkat ketiga global dalam kecerdasan model pada Juli, tak lama setelah dirilis, di belakang Claude Fable 5 milik Anthropic dan GPT-5.6 Sol milik OpenAI, menurut platform benchmark AI Artificial Analysis.
Namun Kimi K3 kini berada di peringkat kesembilan, di belakang model frontier baru dari Anthropic, OpenAI, Meta, dan SpaceXAI, yang menunjukkan keunggulan AI China bisa berubah-ubah.