Wall Street bergerak naik-turun pada Rabu setelah Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali dalam lebih dari tiga tahun.
Langkah itu diambil untuk melawan inflasi tinggi yang bersumber dari lonjakan harga minyak mentah selama perang AS-Israel melawan Iran.
Dalam pernyataan pendampingnya, The Fed menyebut keputusan tersebut bulat dan pengetatan lanjutan kemungkinan besar dilakukan dalam waktu dekat.
Tujuannya agar penurunan inflasi terjadi lebih cepat.
"Seperti yang diperkirakan luas, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kali dalam lebih dari tiga tahun," kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha.
"Setelah komentar hawkish dari Ketua Fed Kevin Warsh beberapa pekan lalu di Jackson Hole, dia agak menyudutkan dirinya sendiri," tambah Detrick.
"Fakta bahwa keputusan itu bulat agak mengejutkan," ujarnya.
"Pada saat yang sama, itu benar-benar menunjukkan bahwa The Fed serius memerangi latar belakang inflasi yang meluas."
Investor akan mencermati komentar Warsh dalam konferensi pers yang sedang berlangsung untuk detail alasan bank sentral di balik keputusan hari ini.
Mereka juga mencari petunjuk mengenai arah suku bunga ke depan.
Sebelumnya pada sesi yang sama, data penjualan ritel yang kuat menunjukkan konsumen masih berbelanja meski ada tekanan keterjangkauan akibat kenaikan harga.
Tekanan itu terutama terasa di pompa bensin.
Perang di Timur Tengah meluas saat pesawat tempur Saudi menggempur Yaman, sementara pejuang Houthi yang didukung Iran meluncurkan drone dan rudal ke kota-kota Saudi.
Itu menjadi sinyal jangkauan Iran yang meluas dalam konflik tersebut.
Meski begitu, harga minyak turun setelah laporan bahwa Arab Saudi menawarkan kargo minyak mentah tambahan melalui Oman.