Ia juga bekerja bersama Microsoft dan perusahaan AI lain sebagai ketua Gates Foundation.
Namun, ia menegaskan pandangannya tidak bermotif keuntungan.
Shaffer mempertanyakan seberapa setara upaya ini jika penerapannya sebagian besar diarahkan oleh yayasan swasta dan korporasi.
“Mereka tetap berarti semacam bentuk akses yang sangat diprivatisasi,” katanya.
Laporan Goalkeepers muncul menjelang pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB pekan depan di New York.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres berupaya melibatkan negara berkembang dalam pembicaraan tentang tata kelola AI.
Guterres, yang masa jabatannya berakhir tahun ini, mengatakan teknologi itu “tidak bisa diatur oleh segelintir negara atau perusahaan.”
Namun, proses PBB “bergerak jauh lebih lambat daripada AI,” menurut Richard Gowan dari International Crisis Group.
PBB juga menghadapi pertanyaan soal relevansinya menjelang pemilihan pengganti Guterres.
“Belum jelas apakah sekretaris jenderal berikutnya akan mempertahankan fokus ini,” kata Gowan kepada wartawan pada Senin.