unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Naskah Khutbah Jumat 18 September 2026: Ketika Gunung Bergejolak, Saatnya Iman Kita Bergerak (Lengkap dengan Teks Arab dan Unduhan PDF)
News

Naskah Khutbah Jumat 18 September 2026: Ketika Gunung Bergejolak, Saatnya Iman Kita Bergerak (Lengkap dengan Teks Arab dan Unduhan PDF)

Naskah Khutbah Jumat 18 September 2026: Ketika Gunung Bergejolak, Saatnya Iman Kita Bergerak (Lengkap dengan Teks Arab dan Unduhan PDF)
Ilustrasi Masjid
A A Ukuran Teks16px

Alam semesta tidak pernah berhenti berbicara. Kadang, ia berbisik melalui embun pagi yang tenang. Namun, tak jarang pula ia berteriak lantang melalui getaran tanah dan semburan api dari perut bumi. Fenomena gunung berapi yang kembali menunjukkan aktivitasnya di tanah air bukan sekadar peristiwa geologis semata, melainkan sebuah ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah) yang menuntut kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperkuat benteng keimanan.

Menyambut ibadah salat Jumat pada 18 September 2026, materi khutbah dengan tema "Gunung Bergejolak, Iman Bergerak" hadir sebagai pengingat yang sangat relevan. Naskah ini mengajak seluruh jamaah untuk tidak hanya menjadi penonton pasif di tengah fenomena alam, tetapi juga aktif melakukan introspeksi diri (muhasabah), memperbaiki amal, dan meningkatkan ketakwaan dalam setiap helaan napas kehidupan.

Bagi para khatib, da’i, dan pemerhati kajian keislaman, naskah khutbah ini telah disusun secara sistematis, mendalam, dan siap digunakan. Tersedia pula dalam format PDF gratis yang dapat diakses melalui ponsel atau tablet, memudahkan Anda mempersiapkan materi dakwah tanpa perlu repot mencetaknya.


Gema Alam dan Rapuhnya Kesombongan Manusia

Beberapa hari terakhir, mata bangsa Indonesia kembali tertuju pada pemandangan alam yang sekaligus menggetarkan hati: aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pada periode 4–6 September 2026, gunung ini mengalami episode erupsi menerus selama kurang lebih 25 jam. Meski aktivitasnya berangsur menurun, statusnya tetap dipertahankan pada Level III (Siaga) oleh Badan Geologi, dengan pengawasan ketat yang terus berlangsung.

Dampaknya terasa nyata. Hujan abu vulkanik sempat mengganggu aktivitas penerbangan dan memaksa sejumlah bandara di wilayah sekitar untuk menutup operasional sementara. Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi ego manusia. Di tengah klaim kemajuan teknologi, rekayasa sipil, dan kecerdasan buatan yang kita banggakan, kita tetaplah makhluk yang amat lemah ketika Allah Swt. menghendaki kekuasaan-Nya bekerja.

Gunung yang selama ini kita pandang sebagai simbol kekokohan, ternyata dapat berguncang, mengeluarkan api, abu, dan material panas yang mematikan. Sesuatu yang tampak begitu perkasa di mata manusia, seketika menjadi tak berdaya di hadapan kehendak Sang Pencipta.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
"Dan apabila gunung-gunung digerakkan." (QS. At-Takwir: 3)

Ayat ini bukan sekadar deskripsi hari kiamat, tetapi juga pengingat bahwa kestabilan yang kita rasakan hari ini adalah anugerah, bukan jaminan mutlak.


Musibah sebagai Cermin, Bukan Vonis

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Penting untuk digarisbawahi bahwa erupsi gunung atau bencana alam lainnya bukan berarti kita boleh dengan mudah memvonis bahwa setiap bencana adalah hukuman khusus bagi kelompok tertentu. Kita tidak memiliki akses terhadap perkara gaib, dan sangat tidak etis menuduh korban bencana sebagai orang yang sedang "dihukum" oleh Tuhan.

Namun, setiap musibah yang terjadi di sekitar kita seyogianya menjadi teguran keras untuk melakukan muhasabah (introspeksi) massal maupun pribadi. Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu." (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini sama sekali bukan alat untuk menyalahkan korban. Justru, ayat ini adalah cermin yang dihadapkan kepada kita semua: sudahkah kita memperbaiki hubungan vertikal kita dengan Allah? Sudahkah kita merawat hubungan horizontal dengan sesama manusia dan alam?

Seringkali, manusia baru teringat kepada Allah ketika tanah berguncang, ketika gunung meletus, ketika atap rumah terancam runtuh, ketika harta benda ludes terbakar, atau ketika nyawa berada di ujung tanduk. Saat semuanya aman, kita merasa kuat dan abadi. Saat kesehatan masih prima, kita merasa waktu masih sangat panjang. Saat rumah masih berdiri megah, kita lupa bahwa semuanya hanyalah titipan yang suatu saat akan diminta kembali.

Tetapi, ketika terdengar suara gemuruh dari dasar gunung, manusia tiba-tiba sadar bahwa hidup ini sangatlah rapuh.


Sikap Mukmin: Bersyukur di Saat Lapang, Bersabar di Saat Sempit

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin sejati adalah mereka yang mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap keadaan yang menimpanya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim)

Maka, ketika gunung meletus, jangan hanya melihat asap hitam dan aliran lava. Lihatlah di baliknya ada tanda kebesaran Allah yang Maha Perkasa. Ketika abu vulkanik menutupi atap rumah-rumah masyarakat, jangan hanya melihat kotoran yang harus dibersihkan. Lihatlah betapa mudahnya Allah mengingatkan manusia bahwa dunia ini fana dan tidak kekal.

Ketika saudara-saudara kita terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah dan harta benda yang mereka kumpulkan seumur hidup, jangan hanya menyaksikan dari balik layar telepon pintar. Mari kita hadirkan kepedulian nyata. Bantu sesuai kemampuan, doakan keselamatan mereka, dan jangan pernah menjadikan penderitaan mereka sebagai sekadar tontonan atau bahan konten media sosial.


Tawakal Bukan Berarti Mengabaikan Ikhtiar

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Bencana juga mengajarkan kita tentang pentingnya ikhtiar (usaha) yang maksimal. Tawakal kepada Allah bukan berarti kita pasrah dan mengabaikan peringatan para ahli. Mengikuti arahan pemerintah, menjauhi kawasan rawan bencana (KRB), menggunakan masker saat hujan abu, menyiapkan jalur evakuasi, serta membantu kelompok rentan (lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas) adalah bagian dari menjaga amanah kehidupan.

Islam sangat menjunjung tinggi pemeliharaan jiwa (hifz an-nafs). Karena itu, ketika pemerintah dan petugas kebencanaan memberikan peringatan, janganlah kita meremehkannya. Jangan mendekati kawasan berbahaya hanya demi mendapatkan video dramatis untuk media sosial. Jangan mempertaruhkan nyawa demi sebuah konten viral.

Jangan sampai kita lebih takut kehilangan sinyal internet daripada kehilangan keselamatan diri. Allah Swt. berfirman dengan tegas:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah: 195)


Momentum Kembali kepada Allah

Mari kita jadikan fenomena alam ini sebagai momentum suci untuk kembali kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya kembali.

  • Jika selama ini kita meninggalkan salat, mari kita perbaiki dan dirikan salat kita.
  • Jika selama ini kita menyakiti hati orang tua, mari kita segera meminta maaf dan berbakti kepada mereka.
  • Jika selama ini kita mengambil hak orang lain, mari kita kembalikan atau meminta kehalalannya.
  • Jika selama ini hati kita dipenuhi iri, dendam, dan kesombongan, mari kita bersihkan dengan zikir dan istighfar.

Sebab, kita tidak pernah tahu, apakah azan berikutnya masih akan kita dengar dengan telinga kita sendiri. Kita tidak pernah tahu, apakah Jumat berikutnya masih akan kita jumpai dalam keadaan sehat. Dan kita tidak pernah tahu, apakah kesempatan bertaubat yang kita miliki hari ini masih akan diberikan Allah esok hari.

Maka, sebelum gunung berguncang, guncangkanlah hati kita dengan istighfar. Sebelum api keluar dari bumi, padamkanlah api kemaksiatan dalam diri kita. Sebelum kita dipaksa meninggalkan rumah karena bencana, persiapkanlah bekal amal saleh untuk meninggalkan dunia menuju akhirat yang kekal.

Semoga setiap peristiwa yang terjadi tidak hanya membuat kita takut, tetapi juga membuat kita semakin dekat, semakin cinta, dan semakin takut hanya kepada Allah Swt.


TEKS KHUTBAH JUMAT LENGKAP

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الْجِبَالَ أَوْتَادًا، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik ketika kita menghadapi berbagai keadaan kehidupan, termasuk ketika Allah memperlihatkan kepada kita kekuasaan-Nya melalui fenomena alam.

(Lanjutkan dengan pembacaan materi inti di atas sesuai kebutuhan durasi khutbah)

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ


Unduh Naskah Lengkap dan Mari Berbagi Kebaikan

Materi khutbah Jumat 18 September 2026 ini tersedia dalam format PDF gratis yang telah diformat agar mudah dibaca melalui layar ponsel atau tablet. Khatib dapat langsung menggunakannya sebagai referensi tanpa perlu mencetaknya, mendukung gerakan ramah lingkungan dan efisiensi waktu.

[Tombol: Unduh Naskah Khutbah Jumat 18 September 2026 (PDF)]

Catatan Penting: Naskah ini merupakan hasil kerja sama dengan situs khutbahsingkat.com, yang secara konsisten menyediakan berbagai materi khutbah berkualitas untuk membantu para khatib mempersiapkan dakwah secara praktis, mendalam, dan relevan. Mohon tetap mencantumkan nama penulis dan sumber asli sebagai bentuk penghargaan terhadap karya intelektual dan upaya dakwah yang telah dilakukan.

Jangan lupa bantu sebarkan (share) materi ini ke grup WhatsApp keluarga, komunitas masjid, atau relasi Anda. Dengan satu kali klik, Anda telah membantu semakin banyak orang memperoleh referensi khutbah yang bermanfaat, menyejukkan hati, dan mudah untuk diamalkan. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal jariyah bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru