Islam sangat menjunjung tinggi pemeliharaan jiwa (hifz an-nafs). Karena itu, ketika pemerintah dan petugas kebencanaan memberikan peringatan, janganlah kita meremehkannya. Jangan mendekati kawasan berbahaya hanya demi mendapatkan video dramatis untuk media sosial. Jangan mempertaruhkan nyawa demi sebuah konten viral.
Jangan sampai kita lebih takut kehilangan sinyal internet daripada kehilangan keselamatan diri. Allah Swt. berfirman dengan tegas:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah: 195)
Momentum Kembali kepada Allah
Mari kita jadikan fenomena alam ini sebagai momentum suci untuk kembali kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya kembali.
- Jika selama ini kita meninggalkan salat, mari kita perbaiki dan dirikan salat kita.
- Jika selama ini kita menyakiti hati orang tua, mari kita segera meminta maaf dan berbakti kepada mereka.
- Jika selama ini kita mengambil hak orang lain, mari kita kembalikan atau meminta kehalalannya.
- Jika selama ini hati kita dipenuhi iri, dendam, dan kesombongan, mari kita bersihkan dengan zikir dan istighfar.
Sebab, kita tidak pernah tahu, apakah azan berikutnya masih akan kita dengar dengan telinga kita sendiri. Kita tidak pernah tahu, apakah Jumat berikutnya masih akan kita jumpai dalam keadaan sehat. Dan kita tidak pernah tahu, apakah kesempatan bertaubat yang kita miliki hari ini masih akan diberikan Allah esok hari.
Maka, sebelum gunung berguncang, guncangkanlah hati kita dengan istighfar. Sebelum api keluar dari bumi, padamkanlah api kemaksiatan dalam diri kita. Sebelum kita dipaksa meninggalkan rumah karena bencana, persiapkanlah bekal amal saleh untuk meninggalkan dunia menuju akhirat yang kekal.
