unique visitors counter
⌂ Beranda News Naskah Khutbah Jumat 18 September 2026: Ketika Gunung Bergejolak, Saatnya Iman Kita Bergerak (Lengkap dengan Teks Arab dan Unduhan PDF)
News

Naskah Khutbah Jumat 18 September 2026: Ketika Gunung Bergejolak, Saatnya Iman Kita Bergerak (Lengkap dengan Teks Arab dan Unduhan PDF)

Naskah Khutbah Jumat 18 September 2026: Ketika Gunung Bergejolak, Saatnya Iman Kita Bergerak (Lengkap dengan Teks Arab dan Unduhan PDF)
Ilustrasi Masjid
A A Ukuran Teks16px
IN ARTICLE 1

Gunung yang selama ini kita pandang sebagai simbol kekokohan, ternyata dapat berguncang, mengeluarkan api, abu, dan material panas yang mematikan. Sesuatu yang tampak begitu perkasa di mata manusia, seketika menjadi tak berdaya di hadapan kehendak Sang Pencipta.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
"Dan apabila gunung-gunung digerakkan." (QS. At-Takwir: 3)

Ayat ini bukan sekadar deskripsi hari kiamat, tetapi juga pengingat bahwa kestabilan yang kita rasakan hari ini adalah anugerah, bukan jaminan mutlak.


Musibah sebagai Cermin, Bukan Vonis

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Penting untuk digarisbawahi bahwa erupsi gunung atau bencana alam lainnya bukan berarti kita boleh dengan mudah memvonis bahwa setiap bencana adalah hukuman khusus bagi kelompok tertentu. Kita tidak memiliki akses terhadap perkara gaib, dan sangat tidak etis menuduh korban bencana sebagai orang yang sedang "dihukum" oleh Tuhan.

Namun, setiap musibah yang terjadi di sekitar kita seyogianya menjadi teguran keras untuk melakukan muhasabah (introspeksi) massal maupun pribadi. Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu." (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini sama sekali bukan alat untuk menyalahkan korban. Justru, ayat ini adalah cermin yang dihadapkan kepada kita semua: sudahkah kita memperbaiki hubungan vertikal kita dengan Allah? Sudahkah kita merawat hubungan horizontal dengan sesama manusia dan alam?

Seringkali, manusia baru teringat kepada Allah ketika tanah berguncang, ketika gunung meletus, ketika atap rumah terancam runtuh, ketika harta benda ludes terbakar, atau ketika nyawa berada di ujung tanduk. Saat semuanya aman, kita merasa kuat dan abadi. Saat kesehatan masih prima, kita merasa waktu masih sangat panjang. Saat rumah masih berdiri megah, kita lupa bahwa semuanya hanyalah titipan yang suatu saat akan diminta kembali.

📰 Update Terbaru