Jumlah pengguna QRIS kini mencapai 67 hingga 68 juta, dengan 45 juta merchant yang mayoritas merupakan pelaku UMKM.
Pertumbuhan itu menegaskan QRIS semakin menjadi bagian dari aktivitas pembayaran harian masyarakat.
Namun, di balik kemudahan tersebut, persoalan keamanan transaksi digital ikut menjadi perhatian.
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Fitria Irmi Triswati, menyatakan pengembangan QRIS tidak hanya mengejar kemudahan.
Menurutnya, QRIS merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pembayaran digital yang inklusif, efisien, aman, dan terintegrasi.
Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada Rabu, 16 September 2026.
Peran Pengguna dan Penyedia Layanan
CEO & Editor in Chief Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan, menilai pengguna memiliki peran penting dalam rantai keamanan pembayaran digital.
Ia menegaskan sistem yang dibangun penyedia layanan tetap membutuhkan pengguna yang memahami risiko.
Pengguna juga diminta tidak mudah mengikuti instruksi dari pihak yang mencurigakan.
Ihsan mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat menerima telepon atau pesan yang mengatasnamakan layanan pembayaran.
Kewaspadaan terutama diperlukan jika pihak tersebut meminta informasi terkait akun maupun transaksi.
Menurutnya, pertumbuhan pembayaran digital harus dibarengi edukasi, literasi, keamanan, dan perlindungan konsumen.
Dari sisi penyedia layanan, Presiden Direktur ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari, menjelaskan keamanan perlu berjalan beriringan dengan meluasnya penggunaan QRIS.
ShopeePay menerapkan verifikasi tambahan saat pergantian perangkat untuk melindungi akun pengguna dari risiko keamanan transaksi digital.
Langkah itu menjadi salah satu bentuk penguatan mekanisme keamanan di dalam layanan pembayaran.
Dengan jumlah pengguna dan merchant yang terus bertambah, menjaga transaksi tetap aman menjadi pekerjaan bersama.
Bank Indonesia, penyedia layanan pembayaran, merchant, dan pengguna memiliki peran masing-masing dalam ekosistem ini.