Pernahkah Anda merasa lelah secara mental meskipun secara materi hidup Anda tampak berkecukupan? Pernahkah Anda menghabiskan akhir pekan dengan berlibur ke tempat-tempat indah, namun rasa gelisah itu tetap saja datang menyapa begitu Senin tiba? Jika jawabannya "ya", Anda tidak sendirian. Fenomena ini dialami oleh jutaan manusia di seluruh penjuru dunia, dan jawabannya mungkin jauh lebih sederhana daripada yang kita duga: bersyukur.
Tema inilah yang diangkat dalam Khutbah Jumat edisi 18 September 2026 di berbagai masjid di Indonesia. Dengan judul "Bersyukur: Kunci Meraih Ketenangan dan Kedamaian Hidup", khutbah yang disusun oleh Amrullah ini mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali hakikat ketenangan jiwa yang selama ini sering kali dicari di tempat-tempat yang keliru.
Pencarian Ketenangan yang Tak Pernah Usai
Di era modern yang serba cepat ini, tekanan hidup datang dari berbagai arah. Tuntutan pekerjaan, dinamika hubungan sosial, gejolak ekonomi, hingga banjir informasi dari media sosial membuat pikiran manusia nyaris tidak pernah benar-benar beristirahat. Akibatnya, tidak mengherankan jika semakin banyak orang yang merasa kehilangan kedamaian batin.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak orang rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi mencari ketenangan. Ada yang memilih healing ke pegunungan, ada yang menyepi di villa-villa terpencil, ada pula yang terbang ke luar negeri hanya untuk "melarikan diri" sejenak dari rutinitas yang mencekik. Namun, ironisnya, begitu liburan berakhir dan kaki kembali menginjak tanah realitas, kegelisahan itu seolah menunggu di depan pintu rumah.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada satu fakta mendasar: ketenangan jiwa bukanlah komoditas yang bisa dibeli, bukan pula destinasi yang bisa dicapai dengan tiket pesawat. Ketenangan sejati bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri, dan dalam perspektif Islam, kuncinya adalah rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Apa Sebenarnya Makna Bersyukur?
Secara bahasa, kata "syukur" berasal dari bahasa Arab yang mengandung makna pengakuan, penghargaan, dan rasa terima kasih yang mendalam atas segala kebaikan yang diterima. Namun dalam konteks yang lebih luas, bersyukur bukan sekadar mengucapkan "Alhamdulillah" di bibir saja.
Bersyukur adalah sebuah sikap hidup. Ia merupakan fondasi utama dari kepuasan batin yang autentik. Ketika hati seseorang senantiasa diliputi rasa syukur, jiwanya akan merasa cukup (qana'ah), terpuaskan, dan secara otomatis tercegah dari berbagai perilaku negatif yang justru merusak tatanan kehidupan.
Sebaliknya, ketika rasa syukur itu hilang, yang muncul adalah perasaan kurang yang tak berujung. Manusia menjadi serakah, tidak pernah puas, dan terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Inilah akar dari segala kegelisahan dan ketidaktenangan yang selama ini menghantui kehidupan banyak orang.
Janji Allah yang Tidak Pernah Ingkar
Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam telah memberikan penjelasan yang sangat gamblang mengenai hubungan antara syukur dan ketenangan. Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh, azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini mengandung sebuah prinsip universal yang sangat powerful. Allah menjanjikan penambahan nikmat bagi siapa saja yang mau bersyukur. Penambahan ini tidak terbatas pada aspek materi semata, melainkan mencakup pula kelapangan dada, ketenangan pikiran, dan kedamaian hati yang tidak bisa diukur dengan angka-angka di rekening bank.
Di sisi lain, ayat ini juga memberikan peringatan keras: mengingkari nikmat Allah berarti mengundang penderitaan. Ketika murka dan azab Allah turun, dari situlah bermula segala bentuk kekacauan jiwa, kegelisahan yang kronis, dan penyakit batin yang perlahan-lahan meremukkan kedamaian hidup seseorang.
Pertanyaannya kemudian, apa artinya tumpukan harta yang melimpah jika jiwa senantiasa berguncang? Harta yang tidak disyukuri pada akhirnya akan berbalik menjadi fitnah, beban mental, dan bahkan petaka bagi pemiliknya sendiri.
Syukur dalam Tindakan Nyata, Bukan Sekadar Kata-Kata
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam khutbah Jumat kali ini adalah bahwa syukur yang sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya停留在 ucapan lisan semata. Lalu, bagaimana cara mewujudkannya?
Pertama, berbagi rezeki kepada sesama. Ketika kita menyisihkan sebagian harta untuk membantu mereka yang membutuhkan—menyantuni anak yatim, menyokong kaum dhuafa, atau mendukung perjuangan dakwah—kita sedang mempraktikkan syukur dalam bentuk yang paling konkret. Menariknya, di balik wajah-wajah bahagia para penerima manfaat itu, mengalir doa-doa tulus yang menjadi muara ketenangan bagi jiwa dan pikiran kita sendiri. Doa orang-orang yang terzalimi dan lemah adalah doa yang tidak pernah ditolak oleh Allah.
Kedua, mensyukuri nikmat kesehatan fisik. Sering kali kita lupa bahwa tubuh yang sehat adalah anugerah yang luar biasa mahal. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar 360 ruas tulang dan persendian yang bekerja secara harmonis setiap hari tanpa kita sadari. Bayangkan betapa kompleksnya sistem yang Allah ciptakan dalam tubuh kita!
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan panduan praktis untuk mensyukuri nikmat fisik ini melalui salat sunnah Dhuha. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ… وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
"Setiap pagi, setiap ruas tulang (persendian) dari salah seorang di antara kalian memiliki kewajiban sedekah… Dan semua itu dapat dicukupi dengan menunaikan dua rakaat salat Dhuha." (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan kita bahwa dua rakaat Dhuha yang kita tegakkan setiap pagi sejatinya adalah ungkapan "terima kasih" atas 360 persendian yang bekerja tanpa henti. Sebuah praktik spiritual yang sederhana namun memiliki dampak luar biasa bagi kesehatan jiwa dan raga.
Ketiga, menggunakan waktu dan umur dengan bijak. Setiap detik yang berlalu adalah nikmat yang tidak akan pernah kembali. Oleh karena itu, syukur juga berarti memanfaatkan setiap hembusan napas untuk hal-hal yang diridhai Allah, bukan untuk hal-hal yang sia-sia apalagi maksiat.
Doa Rasulullah untuk Jiwa yang Tenang
Sebagai teladan utama bagi umat Islam, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri tidak pernah berhenti memohon kepada Allah agar dianugerahi kemampuan untuk bersyukur. Salah satu doa yang beliau ajarkan dan sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini adalah:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu." (HR. Abu Dawud)
Doa ini mengandung tiga elemen kunci yang saling berkaitan: dzikir (mengingat Allah), syukur (berterima kasih atas nikmat-Nya), dan husnul ibadah (memperbaiki kualitas ibadah). Ketiganya membentuk sebuah siklus positif yang, jika dijalankan secara konsisten, akan melahirkan ketenangan jiwa yang mendalam dan berkelanjutan.
Mengapa Syukur Begitu Sulit Dipraktikkan?
Meskipun konsep bersyukur terdengar sederhana, kenyataannya banyak orang yang merasa kesulitan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal ini.
Faktor pertama adalah budaya perbandingan. Di era media sosial, kita terus-menerus disuguhi kehidupan "sempurna" orang lain. Feed Instagram yang penuh dengan foto liburan mewah, pencapaian karier yang gemilang, dan gaya hidup yang glamor membuat kita merasa bahwa hidup kita selalu kurang. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuhnya.
Faktor kedua adalah hedonic adaptation. Dalam psikologi, istilah ini merujuk pada kecenderungan manusia untuk cepat beradaptasi dengan kenyamanan baru sehingga hal-hal yang semula dianggap sebagai nikmat luar biasa perlahan-lahan menjadi hal yang biasa saja. Mobil baru yang awalnya membuat kita sangat bahagia, setelah beberapa bulan, hanya menjadi alat transportasi biasa. Rumah baru yang awalnya membuat kita bangga, lama-kelamaan hanya menjadi tempat tidur biasa.
Faktor ketiga adalah kurangnya refleksi diri. Kesibukan sehari-hari sering kali membuat kita lupa untuk berhenti sejenak dan merenungkan betapa banyak nikmat yang telah Allah curahkan kepada kita. Kita terlalu fokus pada apa yang belum kita miliki sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada di genggaman.
Langkah Praktis Membangun Kebiasaan Bersyukur
Lantas, bagaimana cara membangun kebiasaan bersyukur yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari? Berikut beberapa langkah praktis yang bisa Anda terapkan mulai hari ini:
- Mulailah hari dengan ucapan Alhamdulillah. Sebelum membuka ponsel dan mengecek notifikasi media sosial, luangkan waktu beberapa detik untuk mengucapkan syukur atas nikmat bangun tidur, nikmat bernapas, dan nikmat masih diberi kesempatan hidup.
- Buat jurnal syukur harian. Setiap malam sebelum tidur, tuliskan minimal tiga hal yang Anda syukuri hari itu. Hal-hal sederhana seperti makanan yang lezat, senyum anak-anak, atau cuaca yang cerah sudah cukup untuk melatih otak Anda agar lebih peka terhadap nikmat.
- Perbanyak sedekah dan berbagi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, berbagi rezeki adalah bentuk syukur yang paling nyata. Tidak harus dalam jumlah besar, yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi.
- Tegakkan salat Dhuha secara rutin. Jadikan dua rakaat Dhuha sebagai ritual harian untuk mensyukuri 360 persendian yang Allah anugerahkan kepada Anda.
- Kurangi membandingkan diri dengan orang lain. Fokuslah pada perjalanan hidup Anda sendiri dan syukuri setiap progres kecil yang berhasil Anda capai.
- Perbanyak dzikir dan doa. Amalkan doa yang diajarkan Rasulullah agar Allah senantiasa menolong kita untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan memperbaiki kualitas ibadah kita.
Ketenangan Sejati Ada di Dalam Hati
Pada akhirnya, pesan utama dari khutbah Jumat edisi 18 September 2026 ini sangat jelas: ketenangan dan kedamaian hidup tidak akan pernah ditemukan di luar diri kita. Tidak di puncak gunung, tidak di pantai-pantai eksotis, tidak pula di dalam saldo rekening yang berlimpah. Ketenangan sejati hanya bisa diraih ketika hati kita dipenuhi rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Ketika kita bersyukur, Allah menjanjikan penambahan nikmat. Ketika kita kufur, yang datang adalah kegelisahan dan penderitaan. Pilihan ada di tangan kita masing-masing.
Marilah kita jadikan rasa syukur sebagai gaya hidup, bukan sekadar ritual sesaat. Gunakan setiap detik umur, setiap hembusan napas, dan setiap rezeki yang Allah titipkan untuk menggapai ridha dan rahmat-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melembutkan hati kita, mengaruniai kita jiwa yang qana'ah, serta memelihara hidup kita dalam naungan kedamaian di dunia maupun di akhirat kelak.
Amin ya Rabbal 'alamin.