Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menjamu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pekan depan.
Pasukan kehormatan militer AS telah berlatih dan helipad baru Gedung Putih disiapkan untuk menyambut kedatangan Xi.
Namun para pakar menilai pertemuan puncak itu lebih bersifat seremonial ketimbang menghasilkan terobosan konkret.
Ketegangan AI, Iran, dan Perdagangan
Peringatan soal ancaman AI membayangi pertemuan pertama Xi di Gedung Putih, saat kedua negara berlomba mengejar supremasi teknologi.
Perang Iran yang melibatkan Trump juga menjadi bayangan panjang, karena China berupaya menghindari sanksi AS terhadap negara yang berurusan dengan Teheran.
Laporan menyebut Beijing memasok intelijen ke Teheran untuk serangan terhadap pasukan AS, meski Trump meremehkan laporan tersebut.
Perang dagang yang masih membara antara dua ekonomi terbesar dunia menjadi kekhawatiran yang lebih besar lagi.
Ancaman konfrontasi militer terkait Taiwan juga tetap membayangi hubungan Washington dan Beijing.
Di balik semua itu ada keinginan mengelola ketegangan antara kekuatan adidaya yang ingin mempertahankan posisinya dan rival yang bangkit cepat.
Lebih Sekadar Tontonan
Trump, yang selalu memperhatikan citra media, juga fokus pada aspek visual kunjungan setelah ia disambut dengan kemegahan saat kunjungan kenegaraan ke China pada Mei.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi Trump akan menyambut Xi secara pribadi di Joint Base Andrews pada Rabu pekan depan, sebelum pertemuan pada hari berikutnya.
"Saya akan membahas hampir semua hal dengannya," kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One pada Minggu.
Namun para pakar menilai kedua pemimpin lebih mungkin sekadar memperpanjang gencatan senjata relatif ketimbang menghasilkan hasil konkret.
