Meski ada insentif ekonomi dan alur kerja, analis budaya memperingatkan bahwa hiper-efisiensi tidak otomatis berarti loyalitas penonton atau umur komersial yang panjang.
Kritikus budaya Kim Hern-sik menarik garis tegas antara menggunakan AI sebagai alat di balik layar versus menjadikannya pusat cerita.
Kim mencatat bahwa kemunculan AI dalam acara seperti "My AI Partner" hanyalah konsep yang memanfaatkan keanehan dan rasa ingin tahu, bukan teknologinya sendiri.
Ia memperingatkan agar tidak menganggap keajaiban teknologi secara inheren akan mendorong konsumsi, menekankan bahwa "penonton mungkin merasa kagum saat melihat hasil yang dihasilkan AI, tetapi kemungkinan mereka menyukai konten atau membayar untuk menontonnya hanya karena AI yang membuatnya tidaklah tinggi".
"Rasa ingin tahu tentang AI dan keterikatan pada teknologi adalah isu yang terpisah," tambah Kim.
Lebih jauh, Kim menyoroti kecemasan publik yang mendasari tenaga kerja otomatis, memperingatkan bahwa branding AI yang eksplisit dapat merugikan kreator konten.
Ia menekankan bahwa "karena ada kecemasan bahwa AI dapat menggantikan pekerjaan, ada juga resistensi terhadap konten di mana AI menjadi pusat" dan memperingatkan bahwa "fakta bahwa AI digunakan bisa menjadi faktor yang menurunkan persepsi autentisitas konten".