Dua Suara Berbeda dan Sorotan pada Ueda
Anggota dewan yang bersikap dovish, Toichiro Asada dan Ayano Sato, keduanya ditunjuk oleh Perdana Menteri reflasionis Sanae Takaichi, berbeda pendapat dalam keputusan tersebut.
Perhatian kini tertuju pada konferensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda pukul 0630 GMT, saat pasar mencari petunjuk soal laju dan cakupan pengetatan kebijakan lanjutan.
"Mungkin sebagian terkejut karena dua anggota menentang keputusan dan mungkin sebagian mengharapkan kenaikan 50 basis poin," kata Tohru Sasaki, kepala strategi di Fukuoka Financial Group.
"Ueda-san harus sangat hawkish untuk menahan yen dari depresiasi, tetapi saya pikir agak sulit baginya untuk se-hawkish itu," ujar Sasaki.
"Dia harus mengatakan bahwa BOJ kemungkinan akan menaikkan suku bunga kebijakan lagi dalam tahun ini."
Setelah langkah Jumat itu, pasar memperkirakan BOJ akan terus menaikkan suku bunga dalam kenaikan 25 basis poin sekitar sekali per kuartal, dua kali lipat dari laju pengetatan sebelumnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 5 tahun memperpanjang penurunan, serupa dengan tenor 2 tahun, turun 3 basis poin menjadi 2,265 persen.
Namun, imbal hasil tenor 10 tahun mengurangi penurunan meski masih turun 0,5 basis poin pada hari itu menjadi 2,985 persen.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang super panjang berbalik naik, dengan tenor 20 tahun naik 1,5 basis poin menjadi 3,85 persen dan tenor 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,105 persen.
Obligasi berjangka panjang cenderung mencerminkan pandangan soal inflasi dan keberlanjutan fiskal.
"Perbedaan pendapat dua anggota menunjukkan tekanan politik terhadap BOJ belum sepenuhnya hilang," kata Kanako Nakamura, ekonom di Daiwa Institute of Research.
Menurutnya, penunjukan kembali Menteri Ekonomi Minoru Kiuchi dalam perombakan kabinet juga menandakan dukungan berlanjut bagi kebijakan fiskal ekspansif.
Hal itu memunculkan kekhawatiran bahwa stimulus fiskal dapat menambah tekanan inflasi.